🚦DUA KISAH SAHUR


Cerpen sederhana-santai

DUA KISAH "SAHUR"
FROM VILLAGE

(1)
Kisah Kekinian.

Speaker/toa masjid dekat rumah yang di kubahnya dulu pernah saya hitung berjumlah 26 toa itu, jam-jam menjelang Imsak-subuh seperti biasa sudah meriah sejak jam 02.30.

Kalau anak-anak kentongan keliling kampung dengan menggebuk ember dan kaleng/blek bekas biskuit "Khong Guan" (parsel Gibran untuk Rismon, hihihi) itu, muncul jam 02.00.

Beberapa hari yang lalu, pak Modin (bahasa Ahok: Marbot) yang biasa halo-halo di toa mengatakan dengan santun tapi tetap menghentak_dengan boso Jowo, "Imsak kirang kaleh (dua) menit, ingkang dereng ngerokok utawi ngopi mongo enggal-enggal nindaaken", yang ternyata bikin istri komen ....

"Lha, mana bisa bikin kopi dan minum tuntas, atau mulai nyulut rokok sampai habis dalam dua menit? Hehe...".

Lalu saya jawab, "beliau pasti berpaham bahwa nyetop makan-minum itu dimulai saat subuh, tidak Imsak (arti: Pegangan)".

Kemudian dia balik tanya, "Lha, kalau gitu apa kegunaan waktu Imsak sesuai yang beliau anut?", yang saya jawab, "Imsak itu waktu untuk bersiap-siap nyetop makan-minum".

Dia pun melanjutkan, "aturan untuk sahur dan puasa saja kok njelimet amat Ya? Belum lagi sewaktu menentukan awal dan akhir puasa menggunakan sistem ru'yatul hilal (melihat bulan) dengan mata telanjang yang berbiaya milyaran itu, lagi pula era modern kini dengan 'quick count' kan bisa?..."

(2)
Kisah lawas 48 tahun silam dan kini

Tahun '70-'80 an, saya kost di komplek perumahan PJKA (sekarang PT.KAI) belakang lapangan Golf Rawamangun Jakarta Timur, di mana untuk menuju kampus FHUI saya cukup berjalan kaki sekitar 10 menit.

Dan, toa masjid dekat kost, di bulan puasa saat sahur selalu mengudarakan "Tarhim/memuliakan asma Allah" hasil relay dari radio swasta, kalau nggak salah Atthohiriyah, Tebet(?).

Karena terkenang, maka ketika beberapa hari yang lalu_beberapa hari bermalam di rumah sahabat (Permata Hijau), saat waktu sahur saya sempatkan ke teras rumah untuk mendengarkan suara toa masjid, yang ternyata suara "Tarhim" yang bagi saya syahdu itu (masih) dikumandangkan juga di sana.

Dan Oh itu syahdu? Iya, karena saya memahami artinya dan lokasi saya tidak terlalu dekat dengan toa/sumber suara, tapi bisa jadi dinilai sebagai memekakkan telinga_bising_arogan bahkan melanggar HAM oleh yang pingin sikon sepi dan nyepi.

Salam sehat untuk kita semua.

Gresik, Sabtu, 14 Maret 2026
amroehadiwijaya@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA

🔵 SOFIAN EFFENDI

KOPERASI IKKAD (SEJARAH PEMBENTUKAN)