🔵 PANJI GUMILANG
"PANJI GUMILANG"
Oleh: Amroeh Adiwijaya
Dia, Panji Gumilang (PG) berasal dari desa yang bersebelahan dengan desa saya di Gresik, dan sedikit nyerempet nyambung kefamilian karena buDe-nya menikah dengan famili saya.
Dua kali saya bertemu muka dengan senior beda generasi itu, pertama ketika saya SMP di Gontor, sekitar tahun 1972 saat dia, alumnus Gontor dan istri (asal Menes Banten) mengunjungi/menengok adik sang istri (konsulat Banten).
Saya juga tidak paham napa waktu itu dia yang juga alumnus UIN Jakarta itu melalui bagian penerimaan tamu Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) Gontor pingin ketemu saya, namun dia sempat berkata penuh makna kepada saya, "istri saya punya adik perempuan, tuh Amroeh!", hehe...
Dan karena saya yang sejak kecil punya minat "niteni/nengeri/nandain" bisa mengingat nama, gaya dan bicara seseorang, maka saya berkesimpulan dia adalah sosok penuh gelora, selalu ingin menonjol atau cenderung "megalomania" suatu gangguan konsepsi atau keyakinan kemampuan diri yang dibesar-besarkan dan cenderung sombong.
Langkahnya dapat diamati, setelah sekian lama mendelep alias tenggelam, karena tak tahan ingin comeback, maka hari-hari belakangan dia menampakkan diri kembali dengan ungkapan-ungkapan bombastis yang sejatinya ungkapan kuno dari para pencari popularitas namun dianggap baru bagi nitizen (kok bisa?!), suatu trik yang sangat mungkin diciptakan sendiri dan timnya.
Orang sedesa awalnya tidak mengenal nama Panji Gumilang (PG) karena yang diketahui hanya nama aslinya, Abdul Salam.
Ayahnya, masa kecil saya sempat tahu, adalah seorang kepala desa yang bertipe santri khusyu' dan pendiam, sama dengan penggantinya sebagai kepala desa, sudah pensiun, adik ketiga PG bernama A.Wahib, tapi adik yang kedua bernama M.Yusuf, bendahara Al-Zaitun(?), setipe PG, sama-sama pintar bicara.
M.Yusuf pun diberi nama baru oleh PG dengan: Datuk Agung Sedayu (Sedayu: Sebuah Kecamatan sebelah kecamatan asal PG di Gresik). Ajib!
Berkibarnya PG setelah sang ayah meninggal dunia, dan tentu membuat warga desa gempar, baik yang simpati pada pondok pesantrennya maupun yang sebaliknya.
Kok ada yang sebaliknya? Karena dia pernah menyatakan bukan berasal dari/tidak mengenal desanya, mengenai asal-usul dana dan latar belakang organisasi, dan lain-lain yang saat itu kontroversial.
Dan yang bersimpati asal desa di Gresik? Menjadikan Al-Zaitun yang kata orang tampilan fisiknya "wah" itu sebagai obyek/destinasi wisata religi baru meski di sana tidak pernah disambut secara langsung oleh sang pengasuh (PG).
Saya sendiri beberapa kali pernah diajak ke sana "gratis" tapi sampai sekarang saya belum ada niat memenuhi.
Bertemu yang kedua dengannya, ketika famili saya menyelenggarakan acara resepsi mantu di graha/gedung pertemuan Petrokimia Gresik, malam hari.
Layaknya kalau Presiden akan hadir, lima orang tim advance, pendahulu, semacam Paspampres masuk ruangan resepsi untuk memastikan di mana presiden akan duduk. Nah, lima orang itu adalah santri/pengawal PG. Menyusul beberapa menit kemudian PG muncul dengan gagah plus pakaian resmi lengkap menuju tempat duduk didampingi dan diikuti oleh sejumlah pengawal dan pengiring, tak ketinggalan aksi juru foto-video yang dia bawa yang membuat hadirin heboh.
Saat itu saya pas menyantap hidangan, dan setelah menyaksikan atraksi "Srimulatan" PG itu, saya pun langsung meninggalkan ruang acara.
Saat keluar, seorang famili keponakan sahibul hajah/tuan rumah yang sedang kuliah di Jakarta (tidak sekampus dengan saya) menyapa saya, "Hebat ya Cak Dul Salam (biasa dia menyebut nama PG), kayak Presiden aja?!", yang saya jawab, "Ah, kamu kayak nggak pernah di Jakarta aja, siapa pun yang punya uang dan mau, bisa membuat dagelan kayak gitu. Tambah wawasanlah bro!".
Dengan pendahuluan di atas, maka saya tidak kaget dengan menyeruaknya kembali info tentang Al-Zaitun dan PG yang kontroversial di medsos.
Garis besarnya saya menanggapi begini:
Pertama:
Saya salut dengan orang semacam PG, karena bagaimanapun dia adalah sosok hebat yang berhasil memenuhi seperti sebuah adagium: Jadilah kamu berhasil "Top" di bidang apapun. Ya, meski dia tidak akan bisa mendulang banyak dukungan dari kalangan muslim.
Bagi kalangan Kristen yang sering diajak/dipersilakan menyelenggarakan acara Natalan di Al-Zaitun pun harus waspada.
Kedua:
Paham keislamannya adalah bentuk adagium (lagi) bahwa Paham/madzhab Islam kaffah always tidak akan bisa sedikit apalagi tunggal melainkan tak terhingga, sesuai pemahaman organisasi bahkan individu masing-masing.
Gresik, sabtu, 29 April 2023.
Pasca sembuh dari diare akut dua mingguan (sekarang masih lemesss),
Koordinator umum Gerakan Anti KKN Alumni Universitas Indonesia (GAKKNAUI).
Komentar
Posting Komentar