🔵 MENGAPA SAKIT?
Opini Minggu Pagi
Amroeh Adiwijaya
(respons singkat untuk ungkapan nyelneh aneh dari seorang member di satu WAG kepada member lain yang sedang sakit).
"MENGAPA SESEORANG SAKIT?"
Menjawab judul di atas niscaya debatable, debat yang tidak berkesudahan, tidak ada titik temu karena setiap orang berpendapat sesuai asumsi dan persepsi masing-masing.
Yang berpatokan pada agama tentu berlandaskan dosa-pahala, sorga-neraka, yang Dukun berasas klenik fufu (mirip fufufafa, hehe), dan yang medis berdasar "medically based_based on medical knowledge," atau "with medical basis," istilah untuk menyatakan sesuatu yang didasarkan pada pengetahuan atau prinsip-prinsip medis, dan lain-lain persepsi orang.
Lalu apa ungkapan dan reason yang netral yang tidak stigmatize, mencap, menodai, mencela, agar si-penderita dan keluarga senang? Jawabannya sederhana, diopinikan saja, "karena semesta telah berkehendak, baik sakit maupun sehat", bukankah semesta bebas untuk berkehendak dan bertindak?
Lebih lanjut, begitu pula jika ada yang meninggal dunia, ada ungkapan berbelasungkawa yang berbeda dari setiap komunitas agama, suku, daerah dan lain-lain.
Dan sebagai contoh, ada satu adegan menarik dari satu film lama berjudul "The Profesor", di mana ada seorang yang hadir di rumah duka tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun hanya menangis dengan derai air mata. Lalu apa respons tuan rumah? "Ungkapan beliau lebih bermakna dari beribu kata".
Mengungkapkan segala hal kepada siapapun memang harus yang menyejukkan, beretika, sesuatu yang telah (pula) digariskan oleh semesta yang tak lain untuk menghargai diri sendiri.
_____________
Gresik, 8 Juni 2025
amroehadiwijaya@gmail.com
Komentar
Posting Komentar