***** NYOBLOS PILPRES

Foto: Pasca nyoblos di TPS

Foto kreasi Rana: Jari-jari kami berempat tepat usai nyoblos Pemilu

Foto: Amroeh, istri dan dua putri.

Assalamu'alaikum WW.
- Salam tahess, dulur-dulurku terkasih
- Mohon tulisanku ini hanya untuk di WAG ini, nggih?!

"LIKU-LIKU NYOBLOS PILPRES 2024 DI TPS"

Demi pendidikan politik untuk dua anakku, karena KTP ku dan keluarga masih alamat lama dan belum masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT), maka aku berusaha untuk tetap bisa nyoblos.

Karena sebelum-sebelumnya aku nggak pernah didatangi/didaftar oleh petugas PEMILU di rumah, dan nol putul mengenai aturan resmi calon pemilih, maka berikut liku-liku yang aku tempuh:

1. Beberapa kali sejak 1 bulan yang lalu aku datang menghubungi Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Balai Desa alamat rumahku yang sekarang, Desa Sukomulyo Manyar, dan dapat jawaban/keputusan aku sekeluarga bisa nyoblos di Tempat Pemungutan Suara (TPS) dekat rumah.

2. Karena Rana antusias nyoblos tapi nggak bisa pindah/rumit ngurus pindah nyoblos dari Gresik ke Jakarta, maka dia memutuskan untuk nyoblos/mudik Gresik.

Dila juga begitu, akan nyoblos di Gresik.

3. Tidak aku duga, eh... Sabtu, 10 Februari 2024 petugas KPPS desa Sukomulyo menghubungi aku, kami nggak bisa nyoblos di sini karena nama kami belum ada di KPU yang otomatis belum terdaftar di Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Tapi katanya, bisa nyoblos berdasar Daftar Pemilih Khusus (DPK) yaitu pemilih baru, yang berlokasi di TPS dekat alamat KTP lama, Perumahan Pongangan Indah (PPI) desa Suci Manyar.

Dia pun memberi nomor HP KPPS desa Suci, kemudian aku datang ke Balai Desa Suci tapi nggak ketemu, hanya aku mendapat nomor HP nya.

Dari hasil percakapan dengannya tanggal 8 Februari 2024 (Rana/si-sulung sudah di Gresik) aku diberi nomor HP dan bisa menghubungi ketua TPS nomor 19, tapi kemudian dioper ke nomor HP Pak Teguh Susetyo ketua TPS nomor 20 dengan lokasi di Balai RW jalan Aren, selatan masjid Attaqwa PPI, TPS yang nanti kami bisa nyoblos.

Aku pun bertanya, "Apakah kami bisa nyoblos di TPS selain nomor 20?", jawabnya, "tidak bisa, karena TPS itulah yang terdekat dengan alamat KTP kami, itu pun bisa nyoblos hanya pada jam 12:00 hingga jam 13:00".

4. Tanggal 13 Februari 2024 sekitar jam 24:00 sikon hujan rintik-rintik, dengan si-bungsu Dila (Semarang) dari perjalananku menjemput dia dari stasiun KA Lamongan, kami mampir melihat TPS kami di Balai RW jalan Pasir PPI.

Karena di situ bukan TPS nomor 20 melainkan nomor 16 maka aku mampir ke Warkop di jalan Pasir untuk bertanya kepada anak-anak muda yang nongkrong di situ, dan Alhamdulillah mendapat bantuan info hasil pengecekan website KPU dari HP nya bahwa nama pak Teguh Susetyo ketua TPS nomor 20 yang sudah aku hubungi itu tidak tercantum.

Pelacakanku tidak berhasil dan aku pun bingung sambil berpikir macam-macam, "piye kalau nanti dua anakku yang sudah mudik itu aku tidak berhasil memberikan pengalaman politik sebagai warga negara yang baik?".

5. Bangun pagi dengan pikiran jernih aku baru sadar, ternyata pelacakanku tadi malam itu salah persepsi/salah alamat, di mana Balai RW itu tidak masuk wilayah desa Suci melainkan desa Pongangan, karena komplek perumahan PPI itu terdiri dari dua desa, Suci dan Pongangan. Maka aku pun bergerak lagi.

6. Jam 09:00 tanggal 14 Februari 2024 hari coblosan, dengan maksud siapa tahu kami bisa nyoblos dekat rumah, karena bukankah alamat sesuai KTP kami berada dalam satu kecamatan (Manyar)?.

Maka aku menuju TPS yang tidak jauh dari rumah (Warkop Didik) dan mendapat jawaban, "pemilih berdasar DPK seperti kami hanya bisa nyoblos di TPS dekat alamat sesuai KTP, tidak bisa di TPS desa lain".

7. Sekitar jam 10:30 aku pun (sendirian) speda motoran menuju Balai RW jalan Aren PPI yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumah, dan berdasar feeling semata aku berhenti di TPS jalan Kayu yang berlokasi sebelah PPI (sebelum Balai RW Jalan Aren), yang sama-sama termasuk wilayah desa Suci.

Aku menemui sang ketua TPS, Pak Wahyu, dan alhamdulillah mendapat jawaban yang menggembirakan bahwa kami bisa nyoblos di situ mulai jam 12:00 sampai 13:00.

8. Jam 11:15 secara estafet bergantian aku memboncengkan bojo/Ika dengan speda motor, kemudian aku jemput Dila untuk menuju TPS jalan Kayu.

Sedangkan Rana bisa mendapatkan/naik Gojek speda motor yang saat itu sulit didapat karena awak Gojek pada nyoblos.

Dan untuk kembali ke rumah, aku memboncengkan bojo, sedangkan Rana dan Dila tidak lama kemudian bisa mendapatkan Grab mobil.

9. Kami berempat sempat saling bertanya mengapa ketua TPS 20 jalan Aren memastikan kami hanya bisa nyoblos di TPS nya sedangkan ketua TPS jalan Kayu membolehkan kami nyoblos di TPS nya meski lokasi sedikit jauh dari alamat KTP kami?

Yang aku jawab, "keputusan ketua TPS jalan Kayu di mana kami bisa nyoblos itulah yang baik, karena memutuskan dengan kebijaksanaan namun tetap sesuai aturan".

Adapun mengenai petugas KPPS desa Sukomulyo yang mendadak merubah keputusannya itu (poin 3 di atas) saya jawab, "memang tidak semua petugas KPPS itu memahami aturan meski itu bidangnya".

10. Malam hari setelah coblosan, jam 20:00 Rana kembali ke Jakarta dengan KA dari stasiun Pasar Turi Surabaya (naik Grab mobil-sendirian) untuk kembali bekerja, sedangkan Dila balik ke Semarang tanggal 15 Februari 2024 dengan KA yang aku antar ke stasiun Lamongan.

Akhirul Kalam, agar dulur-dulur tidak mengalami liku-liku lumayan berliku seperti aku di atas, maka mengikuti perkembangan aturan Pemilu dan mendaftar Pemilu sejak jauh-jauh hari itu penting.

Gresik, 17 Februari 2024 (Mr. Am).
-------------

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA

🔵 SOFIAN EFFENDI

D