*BOARDING SCHOOL ISLAM
"BOARDING SCHOOL ISLAM"
(DAN LATAR BELAKANG PEMIMPIN)
Oleh: Amroeh Adiwijaya
Tulisan ini terilhami dari hasil pembicaraan cukup panjang antara saya dengan seorang sahabat pemangku/pimpinan lembaga pendidikan Islam swasta terkemuka Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
Ada memang "imaginer-kreatif" tipis-tipis layaknya sinetron, tapi harap dimaklumi, hehe...
Inti topik pembicaraan kami adalah mengapa sekolah dengan sistem asrama (boarding school) berbiaya mahal di Jakarta untuk kalangan tajirin melintir-the haves tidak begitu diminati oleh mereka.
Berbicara tentang sumber pendidikan maka harus dibahas secara luas, bukan hanya lembaga formal/sekolah yang disebut "pendidikan" (tentu plus pengajaran) melainkan juga pendidikan dari unit terkecil non formal yaitu keluarga.
Saya bertanya, "Bahkan meski dengan penawaran kurikulum, sistem, tenaga pengajar, dan sarana-prasarana yang mumpuni?", "sudah!", jawabnya sambil menambahi nama saya dengan "pakDe". Maklum karena kami sesama dari Jawa timur hanya beda kabupaten.
Lanjutnya, "masyarakat dan orang tua muslim era kini cenderung menyekolahkan anak pada lembaga pendidikan umum non agama, di dalam maupun luar negeri". Jawab saya, "Memang trendnya demikian, dan itu sunnatullah (hukum alam), mengikuti perkembangan dunia alias globalisasi, meski pasti peserta didik/murid akan menjadi sekuler tipis-tipis, tapi nggak apa karena yang penting dia muslim yang insya Allah tidak akan menjadi murtad (na'udzubillah) dan jika nanti jadi pemimpin atau pejabat apa saja bisa menerapkan nilai-nilai Islam yang benar", yang dia tangkis, "Islam yang benar itu banyak persepsi, di mana masing-masing pihak merasa paling benar, pakDe, mumed!".
Saya lanjutkan, "ini juga sunnatullah ya, pimpinan-pimpinan puncak di negeri ini didominasi oleh mereka yang berpendidikan dari lembaga-lembaga umum terkemuka non agama yang berbiaya mahal, terutama swasta dalam dan luar negeri, tak kecuali non muslim. Sekali lagi sunnatullah, mereka memang mumpuni, etos kerja tinggi dan mampu bersaing".
Dia menimpali, "kok sebegitu pesimisnya pakDe dalam melihat prospek lembaga pendidikan Islam?", yang saya jawab, "Oh, tidak begitu, tapi saya melihat dari sisi lain, skup lebih luas dan berbeda", "apa itu?", tanyanya.
Begini: Kalau dari sisi ma'isyah-sumber nafkah setiap orang kan sudah ditentukan oleh Allah, tidak melihat asal usul orang tua dan pendidikan seseorang, begitu juga yang jadi pimpinan-pimpinan puncak kelak, harap kita paham, qudratullah-atas kuasa Allah, dari banyak kasus bisa muncul dari kalangan orang biasa bahkan orang desa yang pendidikannya pas-pasan.
Bermakna, bagi anak-anak di pelosok desa tidak perlu minder dengan kekurangan fasilitas ini-itu, asalkan memiliki spirit untuk maju.
Sahabat saya mengakhiri percakapan, "Doakan kami praktisi pendidikan Islam ini bisa terus maju, pakDe, karena bagaimana pun geliat ekonomi yang berpadu dengan ikhlas li-i'lai kalimatillah (ikhlas demi kejayaan kalimah Allah) perlu berputar kencang di lembaga pendidikan Islam".
Saya pungkasi, "dengan penuh semangat dan berwawasan luas, insya Allah lembaga-lembaga pendidikan Islam mampu bersaing dengan lembaga-lembaga lain manapun, amin, apalagi sistem munculnya pemimpin saat ini beda dengan era Orde Baru, bisa dari kalangan mana saja".
Gresik, menjelang Maghrib,
Selasa, 7 Maret2023.
amroehadiwijaya@gmail.com
Komentar
Posting Komentar