*ADU SESAMA MUSLIM
OALAAAH.....
BEGITU KOK CINTA NKRI.
MUMED...!!!
Oleh: Amroeh Adiwijaya (*)
Faktual, ada "intelektual" yang begini: Dia aktivis medsos, non muslim dan non pribumi asli, gencar mengkritisi Islam dan penganutnya, tapi adem ayem terhadap pelanggaran yang dilakukan komunitasnya terkhusus dalam hal "ekonomi" yang telah menghancurkan hampir semua sendi-nilai luhur bangsa.
Nampaknya dia sepaham dengan yang berpendapat, "di negeri ini yang terberkati adalah pendatang (tidak pribumi), seperti halnya di negara Australia dan USA, bukan di Jepang, Korea atau India".
Yang getol dilakukan adalah "menyerang" segolongan muslim "vocalis" yang dianggap merugikan komunitasnya, baik dalam hal ekonomi, politik, sosial maupun budaya.
Hampir semua karya produsen buzzersRp diposting habis di medsos dengan menambahkan narasi minimalis untuk mengkilik-kilik memancing di air yang sudah keruh.
Tak terbilang dia menyebut istilah "Kadrun", sebutan yang tidak disukai banyak Muslimun, dan tidak tedeng aling-aling pula berani nulis, "ulah yang demikian kok dibilang Islam itu rahmatan lil-alamin, rahmat bagi seluruh alam".
Dia mengajak kepada Muslimun untuk menyerang sesama Muslimun yang dinilai (persisnya yang merugikan) mengancam komunitasnya dengan mengaitkan pada ulah oknum muslim seperti terorisme dan sejenis.
Dia pun berupaya agar tercipta bentrokan antar anak bangsa diawali benturan antar sesama Muslimun yang mayoritas, dan tidak suka jika aparatur negara bertindak tegas untuk melerai, dan dalam waktu bersamaan berupaya agar aparatur tidak mencegah kejahatan oleh komunitasnya.
Jika ada yang menanggapi alias komen, dia pintar moncer menulis dan berargumen balik, seolah dirinyalah yang paling benar, berwawasan luas, tajir dan paling NKRI.
Dia tergolong lumayan pinter, karena ada aktivis medsos yang lebih keblinger, mosting menyerang Muslimun tapi setelah ada yang menggugat, dia cuman bilang ringan, "saya sekedar mosting namun beda dengan aspirasi saya".
Berhasilkah aksi "dia" tokoh utama tulisan ini? Iya, sedikit! Selain mendapat support dari sesama non muslim dengan komen-komen minimalisnya, juga support dari sedikit muslim terkhusus buzzerRp.
Tapi, banyak juga yang seagama dengannya tidak suka postingannya.
Meski sebagian besar peserta medsos bersikap "silent" ogah menanggapi, namun ada seorang muslim yang bersikap kenceng menolak tak mau berargumen dengannya hingga tak mau percaya lagi pada ocehannya.
Dengan senioritasnya menambahkan, "mau mengeluarkan saya dari group pun, silakan!".
Dia dan kompanyonnya sejatinya jahat yang berpolah seolah bodoh katrok dan koplak akut, dan siapapun yang bernalar cerdas waras niscaya tahu dan berprinsip begini:
1) Mana ada anggota suatu komunitas pemeluk agama apapun apalagi pemeluk Islam-seliberal apapun, mau diindoktrinasi agar menyerang sesama muslim meski berbeda aliran?
Ingat, sesama muslim adalah saudara, bahkan sedahsyat apa perbuatannya, namun (contoh kecil) jika mati, muslim yang hidup berkewajiban alias wajib/fardhu kifayah (yang lain terbebas jika sudah ada seorang atau lebih yang melaksanakan) untuk mengurus jenazahnya sesuai ajaran Islam: Men-shalati dan memakamkan secara layak. Karena dianggap saudara, maka tidak ada cetusan, "kamu bukan muslim, dan kamu malu-maluin Islam", mirip lirik lagu karya Gombloh di mana seorang anak tidak sedikit pun membenci ayahnya, "tak sedikit pun aku membencimu walau kau seorang pencuri".
Kepada sesama Muslim yang nyeleneh hanya bilang, " takdirmu yang kamu ciptakan sendiri memang demikian adanya, namun kamu tetap saudaraku dalam Islam".
Takkan ada muslim yang saling memusuhi sesama muslim apalagi rela jika sesama muslim dihina oleh non muslim meski awalnya sikut-sikutan demi isi perut, kecuali pengkhianat yang di komunitas manapun layak "dicincang".
Bagi muslim yang sama di pemeluk agama apapun, akan rela mati jika agamanya dihinakan, suatu sikap yang benar-benar diluar nalar, persis seperti yang pernah saya tulis:
Layaknya pada film tahun 2016, "SILENCE" sutradara Martin Scorsese dan ditulis oleh Jay Cocks dan Scorsese, berdasar pada novel tahun 1966 berjudul sama karya Shūsaku Endō. Berlatar belakang pemeluk agama Katholik di Nagasaki, Jepang.
Kata Scorsese, "agama dan pemeluknya adalah sesuatu yang unik dan sulit dinalar sehingga saya merasa kesulitan dalam menyelesaikan film ini".
2) Dia tidak sadar di mana ada fakta sejarah bahwa muslimun bisa bersatu yang kemudian menghancurkan siapa pun yang dulu-sebelumnya pernah menghujat Muslimun.
3) Di era pasca reformasi, aliran senafas dengan dia bermunculan, di mana siapapun yang tidak sealiran terutama dalam Pilpres yang lalu adalah musuh tak termaafkan. Fanatik buta terus melilit di hati dan perbuatan.
Benar-benar konyol, karena sikap itu pertanda terus melestarikan friksi, bukan menempuh dialog demi persatuan, dan yang aneh, mengklaim sikap yang demikian sebagai "paling NKRI".
4) Dia yang jelas-jelas ingin mengobrak-abrik negeri ini agar rakyat yang memang "susah diatur" ini terus saling bermusuhan dengan fokus "bikin dulu sesama muslim saling cakar-cakaran", dan sama sekali tidak berharap ada persatuan antar rakyat, sekaligus benci jika negeri ini dipimpin oleh presiden yang tegas dan revolusioner.
Padahal negeri ini benar-benar harus dipimpin dengan "tangan besi", karena akan terus terpuruk jika dengan "alon-alon asal kelakon".
5) Dia tidak tahu bahwa di kalangan bawah ada sekelompok rakyat yang menggerakkan "ultra nasionalisme" yang akan mampu menggilas dia dan siapa/apapun yang tidak nasionalis tulen dan anti NKRI.
Penutup:
Dimulai dari hati paling dalam masing-masing, jangan pernah terbetik menghujat agama lain, apalagi oleh yang bukan seagama. Biarkan yang seiman-seagama yang meluruskan saudaranya sendiri jika berulah "jancuk-udel bodong", itupun harus dengan bijaksana yang tentu dengan adab dan budaya Indonesia.
Kepada seluruh saudaraku setanah air apapun SARA anda, I Love Full.
Jaya NKRI.
Gresik nan damai, Rabu,
19 Januari 2022.
----------
(*)
- Ketua umum SM.FHUI (1982-1983/4)
- Penulis buku antara lain novel OPERA VAN GONTOR (Gramedia 2010)
- Wiraswasta bidang kulit di Gresik.
Komentar
Posting Komentar