* "SYAR'I" YANG BIKIN MUMET

"SYAR'I" YANG BIKIN MUMET

Zaman know, biar suatu produk laku laris manis, selain kata "halal", tak ketinggalan dikatakan "syar'i".

Masih mending syar'i seperti emoji WA di atas yang bisa bikin ketawa, tapi tidak dalam hal berikut.

Lihat saja tips ini-itu, tepatnya mengenai obat dan aktivitas tradisional kesehatan yang berseliweran di medsos yang dibilang syar'i bahkan oleh dokter(?) yang namanya keislaman, tapi tidak ada jaminan sembuh kalau dikonsumsi karena memang belum dilakukan uji klinis laboratoris sebelumnya.

Sembuh tidak malah perut jadi jemblung mekar gendut, atau kalau tips diterapkan malah bikin encok rematik muncul. 

Yang ini prinsipnya sama biar laku, tapi sedikit beda, agar seseorang dibilang muktaman/terpercaya, maka diucapkanlah gaya syar'i, "insya Allah".

Insya Allah-nya orang sekarang bukan kepastian bernilai 99% bagus seperti zaman doeloe melainkan sisa yang sak empritnya, 1%.

Masih mending (contoh: Undangan) kalau yang bilang insya Allah itu seseorang yang diundang pada satu hajatan yang pada waktunya tidak datang, tapi bagaimana kalau yang melakukan itu yang mengundang? Tentu hadirin ngedumel nggak karuan apalagi pas perut lapar.

Karena kalimat insya Allah sudah inflasi alias merosot menjadi ungkapan syar'i untuk "tidak", maka betul, setiap undangan tidak usah ditulis insya Allah tapi to the point "pada hari/tanggal .....", dan jawaban yang diharap dari yang diundang pun kudu sama, "Ya, bisa hadir atau tidak".

Berikut rodok serius. Intinya, Islam kan bertujuan agar orang berpikiran bebas merdeka, tidak terbelenggu oleh apapun, tapi mengapa banyak penulis muslim yang rikuh, tidak percaya diri tepatnya takut mengutarakan bahwa yang ditulis adalah pendapatnya sendiri (padahal itu sah/bukan njiplak!) dengan menyatakan pendapat "syeikh ini syeikh itu". Apa takut dicap tidak syar'i atau yang paling Islam adalah hanya orang arab?.

Ketidak percayaan diri yang bermakna hati terbelenggu itu sering muncul juga pada akhir artikel dengan kalimat, "Wallahu a'lam bi asshawab"; "Dan Allah lebih mengetahui dengan benar", yang betul sifat Allah memang demikian, tapi sebaiknya yakin yang ditulis adalah benar, tidak bersembunyi dibalik ketiak Allah, tidak mengambang dan tidak menjadikan pembaca bimbang.

Yang tepat dan tegas syar'i adalah ungkapan pada setiap akhir pidato khas PMII, "Wallahu almuwafiqu ila aqwami atthariq", atau khas HMI, "Wabillahi attaufiq wal hidayah". Apa artinya? Monggo podo nderes ulang boso arab.

Semoga kehidupan kita selalu sehat dan selamet, tidak makin ruwet.

Gresik, Senin, 20 Mei 2024.
amroehadiwijaya@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA

🔵 SOFIAN EFFENDI

D