*GHAR DAN BRO

"GHAR DAN BRO"
Amroeh Adiwijaya

Tulisan ini sejatinya ditujukan kepada Allah SWT semoga mengabulkan permohonan mas Bro terbebas dari ruwetnya kehidupan.

Kalau Allah SWT mengabulkan permohonan As-habul Ghar setelah mengungkit perbuatan terpuji yang pernah mereka lakukan, lalu mas Bro berpikir, "tentu boleh dong Mas Bro njiplak dengan mengungkapkan hal yang sama yaitu sesuatu yang terpuji yang pernah Mas Bro perbuat?".

Maka selain pengantar dan penutup, tulisan ini ada dua bagian, kisah As-habul Ghar (Arab: Sahabat-sahabat Goa, di judul disingkat Ghar) dan kisah mas Bro (di judul disingkat Bro).

Bagian Pertama

Intisari kisah As-habul Ghar ini mas Bro nukil dari sebuah buku yang menghibur, "Sejuta keajaiban dalam dunia sufi" karya Asrifin An Nahrawi berdasarkan sebuah hadits nabi Muhammad SAW dari Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khattab.

Nabi Muhammad SAW pernah mengisahkan tentang tiga laki-laki pengelana yang sewaktu istirahat di sebuah goa pada episode perjalanannya terperangkap dalam goa, yang kemudian disebut kisah As-habul Ghar.

Bisa jadi karena ada gempa bumi atau sebuah kejadian ghaib, mendadak tiga batu besar menutup pintu goa sehingga mereka terkurung.

Saking mumet dan judegnya tidak mampu menggeser batu, dan agar bisa segera terbebas, mereka sepakat untuk memohon kepada Allah dengan mengungkapkan perbuatan terpuji yang pernah mereka lakukan.

"Hayo kita ungkapkan kepada Allah mengenai kebaikan yang pernah masing-masing kita perbuat", kalimat serempak mereka.

Dimulai ungkapan khusyu' orang pertama: Aku pernah berbuat patuh dan ta'dzim-hormat kepada ibu bapak ketika suatu saat aku datang kemalaman dari mencari rizki untuk kami sekeluarga tanpa mengganggu-membangunkan tidur beliau, dan aku rela tidur di luar pintu rumah dalam kondisi kedinginan. Atas tawadhukku itu aku mohon Engkau berkenan untuk membukakan pintu goa ini. Efeknya? Satu batu membuka namun belum bisa dilalui untuk keluar.

Menyusul ratapan orang kedua: Aku pernah menjaga kehormatan diriku dan sepupuku yang cantik dan aku cintai yang suatu saat sempat membuat birahiku membuncah ketika auratnya tersingkap. Atas kukuhku menjaga kehormatan diri itu aku mohon Engkau berkenan untuk membukakan pintu goa ini, lalu efek pun nampak, batu kedua bergeser namun masih belum bisa dilalui untuk keluar.

Setelah giliran ungkapan mendayu orang ketiga, baru batu ketiga menguak sehingga ketiganya bisa keluar. Ungkapannya adalah: Aku pernah menyimpan gaji seorang karyawanku yang pergi entah kemana, dan aku berikan utuh ditambah hasil pengembangannya yang cukup besar ketika beberapa tahun kemudian dia mendadak muncul. Atas sikapku menjaga kewajiban dan amanah itu aku mohon Engkau berkenan untuk membukakan pintu goa ini.

Bagian Kedua

Berikut kisah "true story" Mas Bro yang mendadak muncul sesaat sebelum menulis bagian ini.

Sore, hari ketiga Idul Fitri tahun 1986, sepulang Mas Bro mengantar adik perempuan, Nusha, dari acara reuni teman kuliahnya di daerah Ujung Pangkah Sidayu Gresik, di tengah perjalanan tepatnya di jalan Pantura-jalan raya Daendels, desa Golokan Sidayu Gresik (dekat tambak ikan bandeng milik ayah), terjadi kecelakaan lalu lintas, seorang bapak pengendara sepeda onthel terserempet mobil pickup.

Pengendara sepeda jatuh tersungkur sehingga mengundang kerumunan solidaritas warga kanan-kiri jalan, hanya sayang mereka menghakimi sopir mobil meski sudah berniat baik dengan berhenti untuk menolong. Mereka main hakim sendiri secara sadis yang berakibat sang sopir pun terkapar.

Mas Bro yang melihat kerumunan, menghentikan mobil untuk melihat apa yang terjadi, dan mengatakan ke adik, "kamu di sini saja, nggak usah keluar dari mobil".

Di tengah-tengah orang di mana sopir menggeletak pasrah dengan beberapa luka itu, dengan penuh keberanian sambil menyebut nama Allah, Mas Bro menyibak kerumunan dan mengangkangkan kaki di antara tubuh sang sopir, lalu berkata keras dan bersiaga menghadapi kalau ada yang menentang, "Hayo minggir, stop, jangan diteruskan bertindak biadab". Alhamdulillah mereka nurut.

Beberapa saat, secara kebetulan lewat dan berhenti satu mobil sedan Polisi berisi dua personel berseragam Polisi entah dari daerah mana, yang jelas bukan Polsek Sidayu, wilayah tempat kejadian perkara (TKP).

Dan tidak lama setelah Polisi itu mengontak, muncul kemudian dua polisi dari Polsek Sidayu yang berboncengan speda motor, kemudian sopir yang terluka akibat keberingasan massa, pesepeda onthel yang tangannya sedikit  lecet beserta spedanya, dan bos sang sopir yang segar bugar, serta dua orang saksi dari kerumunan itu dinaikkan ke bak mobil pickup dengan dikemudikan oleh salah satu Polisi Polsek untuk menuju ke Puskesmas dan kantor Polsek Sidayu yang berjarak sekitar satu kilometer. Mas Bro nggak ikut.

Setiba di rumah mas Bro bercerita kepada orang tua dan mendapat komen ayah, "sikapmu itu bagus, hanya karena membantu orang itu seringkali tidak mudah apalagi dalam kerumunan massa, maka lain kali perlu hati-hati".

Dalam kejadian ini, Alhamdulillah atas izin Allah (bermakna) Mas Bro diberi kesempatan untuk menyelamatkan satu jiwa manusia (sopir) karena sangat mungkin nyawanya tidak tertolong oleh keberingasan massa seandainya Mas Bro dengan kuasa Allah nggak muncul.

Karenanya Mas Bro mohon keadilan, jelasnya balasan, kiranya problem kehidupan Mas Bro segera terpecahkan dan membaik dengan sikon yang membuat bahagia, bukan pemecahan yang membuat merana.

Penutup

Di luar prinsip ajaran komunitas-ahli thariqah/tarekat (aliran sufisme Islam) yang tidak mengharap apa-apa selain "Ridha" Allah, namun karena Mas Bro masih tergolong hamba Allah yang biasa-biasa saja, maka sekali lagi, ungkapan/true story ini adalah benar-benar dengan maksud untuk mengharap balasan, ijabah dari Allah, seperti kisah As-habul Ghar di atas.

Dalam ajaran Islam, ungkapan permohonan Mas Bro itu "boleh" karena yang berkisah As-habul Ghar adalah Rasulullah sendiri, yang rada beda dengan ungkapan "nazar: Berjanji kalau terkabul ini-itu saya akan melakukan ini-itu" di mana banyak ulama yang beda pendapat karena nazar menurut Rasulullah adalah janjinya orang pelit medit mekedut kikir.

Hanya, "boleh" nya itu tentu beda dengan ungkapan yang dilarang Allah yaitu "riya dan ujub: pongah dan sombong" kepada siapapun atas perbuatan yang menurutnya baik.

Lagi pula permohonan Mas Bro yang bisa dikategorikan sejenis kisah As-habul Ghar di atas masih "sederhana-ringan" alias tidak seberat seperti (misal) doa yang pernah diungkapkan oleh seorang selebriti, Neno Warisman yang berpuisi sambil menangis meraung-raung saat kampanye Pilpres di Monas Jakarta tahun 2019 silam, kira-kira begini, "Mohon Engkau menangkan Prabowo Subianto sebagai presiden, karena kalau tidak, niscaya negeri ini akan hancurrrrr, huhuhu....".

Kalaupun Allah belum mengabulkan, ya harus menenteramkan jiwa dengan keikhlasan, optimisme dan menyabarkan diri, "Sabar Mas Bro, dan yakinlah Nasrun minallah Wa Fathun qarib: Pertolongan Allah pasti datang dan sudah dekat, dan tuh, sudah intip-intip".

Salam doa makbul.
Gresik, Kamis, 6 Juni 2024.
Mas Bro
amroehadiwijaya@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

🔵 SOFIAN EFFENDI

KOPERASI IKKAD (SEJARAH PEMBENTUKAN)

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA