*** 54 TAHUN SILAM


54 TAHUN SILAM
(Cerita Santai)

Oleh: Amroeh Adiwijaya (*)

Tulisan ini tentang lagu atau musik.
Kegemaran saya mendengarkan lagu sejak kecil adalah berkat ketularan hobi ayah saya yang suka mutar lagu (dan berita) dari radio dan cassette tape recorder. Juga dalam hobi membaca, dua hal yang sangat bermanfaat dalam mengarungi kehidupan saya.

Khusus lagu, setiap kalau sempat, hampir setiap mau tidur malam seperti malam kemarin (sekitar pukul 23:00), selain mendengarkan lagu dan membaca atau menulis, saya umek nutul-nutul HP mencari lagu-lagu kenangan masa kanak-kanak tahun-tahun awal masuk SD (1964/65) yang melodi dan sebagian syairnya masih saya ingat namun judul nggak tahu.

Lagu-lagu Indonesia, China dan Jepang sudah ketemu dan terfile semua, cuman ada tiga lagu yang belum ketemu, kebetulan satu lagu barat yang ada suara kicau burung, dan dua lagu Arab asli (Mesir/Lebanon) masing-masing satu musik instrumental orchestra tanpa lirik, dan satunya bervocalis alias dengan penyanyi, saya ingat oleh Ummu Kalsoum dan di akhir lirik lagu berkalimat, "kulluna tasyabah, kulluna Jamila".

Alhamdulillah dan saya senang tak terkira, kenangan sekitar 54 tahun silam itu barusan ketemu satu lagu arab yang musik instrumental.

Ternyata berjudul, "Layali Lubnan" komposer: Muhammad Abdul Wahhab, musisi terkemuka Mesir tahun '50-an yang banyak menciptakan lagu untuk "Diva" Mesir Ummu Kalsoum (meninggal tahun 1975) yang terpopuler berjudul "Enta Omri".

Berikut kenangan mendalam saya pada lagu "Layali Lubnan" (malam-malamku di Lebanon):

Hari itu tanggal 17 Oktober 1968, 54 tahun silam, dua anggota marinir KKO Indonesia yang dihukum gantung pukul 06:00 waktu Singapura, jenazahnya dipulangkan ke Indonesia, di mana ratusan ribu masyarakat ibu kota Jakarta ikut berbondong-bondong menyambut kedatangannya.

Usman dan Harun dihukum gantung karena tertangkap terlibat melakukan pengeboman MacDonald House di Singapura pada 10 Maret 1965 dalam rangka misi negara, aksi gerakan "GANYANG MALAYSIA" nya Bung Karno. Aksi keduanya dikategorikan oleh otoritas Singapura sebagai tindakan terorisme.

Pada hari pemulangan jenazah keduanya itulah, ayah saya mendengarkan siaran beberapa radio terkhusus radio Mujahidin Surabaya.

Masih sangat terfisualisasikan pada memori saya yang seolah baru terjadi siang tadi itu, penyiar radio mengucapkan kata-kata puitik heroik semacam "in memoriam" secara berulang-ulang 'ala "Langenswara" untuk pahlawan Usman dan Harun, dan backing sound/vocalnya adalah musik instrumental orchestra berjudul "Layali Lubnan" itu. Mengharukan.

Saya saat itu? Ikut mendengarkan radio dengan khusyuk dan syahdu sebagaimana ayah saya dan jutaan rakyat Indonesia pun merasakan.

Gresik, Kamis,
17 Februari 2022 pukul 23:00
amroehadiwijaya@gmail.com

(*)
- Ketua umum SM.FHUI (1982-1983/4)
- Penulis buku antara lain novel OPERA VAN GONTOR (Gramedia 2010)
- Koordinator umum Gerakan Anti KKN Alumni Universitas Indonesia (GA-KKN-AUI)
- Wiraswasta bidang kulit di Gresik.
---------------------
Lampiran: Musik instrumental "Layali Lubnan" (modif/replay) oleh "National Arab Orchestra":
🩸
https://drive.google.com/file/d/1AuT36bkAiqh3gHqFolgMB3VwnQO6dNBh/view?usp=drivesdk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA

🔵 SOFIAN EFFENDI

D