LAYALI LUBNAN

MALAM-MALAM LEBANON?
"LAYALI LUBNAN"

Flyer terbaru untuk postingan opini Amroeh (sejak Medio 2026)
Flyer sebelum warna biru di atas

Pengantar:
Muncul inspirasi untuk reposting tulisan sederhana ringan ini karena berita dahsyat media massa akhir-akhir ini-betapa mencekamnya sikon negara/warga Lebanon akibat perang (vs Israel), negara yang sarat dengan sejarah menarik.
Kemudian saya hubungkan dengan gugurnya dua prajurit KKO karena dihukum gantung oleh pemerintah Singapura, dan hal-hal lain.


MALAM-MALAM LEBANON?
"LAYALI LUBNAN"
(Musik 54 Tahun Silam)

Oleh: Amroeh Adiwijaya (*)

Inti tulisan ini tentang lagu atau musik, kegemaran saya mendengarkan sejak kecil berkat ketularan, terimbas hobi almarhum ayah terkasih yang gemar memutar lagu (dan berita) dari radio dan cassette tape recorder. Juga dalam hobi membaca, serta beragama/berkemanusiaan dengan benar, tiga hal yang sangat bermanfaat dalam mengarungi kehidupan.

Ternukil pula hal-hal lain yang saling berkaitan.

Khusus lagu, ketika sempat, hampir setiap mau istirahat malam seperti malam kemarin (sekitar pukul 23:00), selain mendengarkan lagu dan membaca atau menulis, saya umek nutul HP mencari lagu-lagu kenangan masa kanak-kanak tahun-tahun awal masuk SD (1964/65) yang melodi dan sebagian syairnya masih saya ingat namun judulnya tidak tahu.

Lagu-lagu Indonesia, China, Korea  Jepang dan Barat sudah ketemu dan terfile semua, cuman ada 4 lagu yang belum ketemu, kebetulan dua lagu barat. Yang pertama lagu Koor yang semasa saya mahasiswa dinyanyikan oleh teman-teman kelompok Paduan Suara Mahasiswa Universitas Indonesia (PSM UI) Paragita, yang Alhamdulillah baru saja ketemu atas bantuan mas mBin, sobat sesama anggota GAKKNAUI dari alumni F.MIPA UI, dulu anggota PSM UI, berjudul: Soon Ah Will Be Done. Yang kedua yang ada suara kicau burung (Baca: Catatan 1 di bawah).

Kemudian dua lagu Arab asli (Mesir/Lebanon) masing-masing satu musik instrumentalia orchestra tanpa lirik, dan satunya bervocalis alias dengan penyanyi, yang saya ingat oleh Ummu Kalsoum di mana pada akhir lirik lagu berkalimat, "kulluna tasyabah, kulluna Jamila" (Baca: Catatan 2 di bawah).

Alhamdulillah dan saya senang tak terkira, kenangan sekitar 54 tahun silam itu barusan ketemu satu lagu arab yang musik instrumentalia.

Ternyata berjudul, "Layali Lubnan" komposer: Muhammad Abdul Wahhab, musisi terkemuka Mesir tahun '50-an yang banyak menciptakan lagu untuk "Diva" Mesir Ummu Kalsoum (meninggal tahun 1975) yang terpopuler berjudul "Enta Omri" itu.

Lagu tersebut dimainkan oleh kelompok orchestra kekinian, "National Arab Orchestra" dengan  conductor: Michael Ibrahim (Baca: Catatan 3 di bawah).

Dan Michael Ibrahim yang piawai memainkan berbagai alat musik itu, adalah pendiri dan direktur musik National Arab Orchestra (NAO), warga negara Amerika Serikat keturunan Suriah. Ia lahir dan dibesarkan di kawasan Metro Detroit, Michigan, dari keluarga imigran Suriah

Sedikit tentang Lebanon, adalah negara yang memiliki pilar-pilar utama dalam membangun kejayaan budaya seperti:
-- Pusat Peradaban Kuno (Fenisia): bangsa Fenisia, terkenal sebagai pedagang maritim ulung
-- Nenek moyang kebudayaan Lebanon yang berjasa memperkenalkan alfabet yang menjadi dasar tulisan modern.
-- Arsitektur dan Sejarah: Reruntuhan megah di kota tua seperti Baalbek dan Byblos yang menampilkan perpaduan menakjubkan antara arsitektur Helenistik dan Romawi. Artefak dari berbagai era ini dilestarikan dengan baik di Museum Nasional Beirut.
-- Disebut Paris dari Timur Tengah: Ibu kota Beirut, telah lama dikenal sebagai pusat intelektual dan gaya hidup Arab yang kosmopolitan. Kota ini menggabungkan kafe trotoar bergaya Eropa, galeri seni, dan pasar tradisional di satu kawasan
-- Festival Seni Internasional: Festival Internasional Baalbek menjadi saksi bisu kejayaan pertunjukan seni kelas dunia, opera, balet, dan musisi internasional sampai ke reruntuhan artefak  kuno yang megah.
-- Surga Kuliner: Kuliner Lebanon diakui dunia karena cita rasanya yang kaya rempah, seperti hummus, tabbouleh, dan kebabs, yang menjadi representasi keramahtamahan masyarakat setempat
-- Sastra dan Pers: Lebanon memiliki tradisi kebebasan pers yang dinamis dan melahirkan banyak sastrawan serta penyair kaliber internasional, menjadikan Beirut sebagai pusat penerbitan terkemuka di dunia Arab.
-- Keberagaman yang Harmonis: Kebudayaan Lebanon dibentuk oleh perpaduan antara tradisi Islam dan Kristen yang mengakar, dipadukan dengan gaya hidup modern yang dipengaruhi oleh budaya Eropa.
-- Tambahan: Kamus Arab terkemuka dan terpopuler di dunia "AL-MUNJID" (Baca Catatan 4).

Adapun "Layali Lubnan (ليالي لبنان)" secara harfiah diterjemahkan menjadi "Malam-malam Lebanon", umumnya bukan mengenai situasi Lebanon atau untuk judul sebuah lagu, melainkan nama hidangan penutup (dessert) tradisional yang sangat populer dari Lebanon dan Timur Tengah.
Berikut detail maksud hidangan penutup ini:
-- Komposisi: Puding susu dan semolina yang lembut, diberi aroma harum air mawar (rose water) atau bunga jeruk.
-- Topping: Dilapisi dengan krim kental (ashta), ditaburi kacang pistachio cincang, dan disiram dengan sirup gula.
-- Makna nama: Menggambarkan kenikmatan menyantap hidangan manis yang sejuk, wangi, dan menyegarkan saat berkumpul bersama keluarga di malam hari.

Banyak lagu pop Arab atau lagu klasik lain yang dalam liriknya menggunakan kata Layali (malam-malam), tetapi Layali Lubnan sebenarnya merujuk spesifik pada hidangan penutup di atas.

Berikut kenangan mendalam saya pada lagu "Layali Lubnan" (malam-malam Lebanon):

Hari itu tanggal 17 Oktober 1968, 54 tahun silam, dua anggota marinir KKO Indonesia yang dihukum gantung pukul 06:00 waktu Singapura, jenazahnya dipulangkan ke Indonesia, di mana ratusan ribu masyarakat ibu kota Jakarta ikut berbondong-bondong menyambut kedatangannya.

Usman dan Harun dihukum gantung karena tertangkap terlibat melakukan pengeboman MacDonald House di Singapura pada 10 Maret 1965 dalam rangka misi negara, aksi gerakan "GANYANG MALAYSIA" nya Bung Karno. Aksi keduanya dikategorikan oleh otoritas Singapura sebagai tindakan terorisme.

Pada hari pemulangan jenazah keduanya itulah, ayah saya mendengarkan siaran beberapa radio terkhusus radio Mujahidin yang dipancarkan dari masjid Mujahidin Perak barat Surabaya.

Masih sangat terfisualisasikan pada memori saya yang seolah baru terjadi siang tadi itu, penyiar radio mengucapkan kata-kata puitik heroik semacam "in memoriam" secara berulang-ulang 'ala "Langenswara" untuk pahlawan Usman dan Harun, dan backing musiknya adalah instrumentalia orchestra berjudul "Layali Lubnan" itu. Mengharukan.

Saya saat itu? Ikut mendengarkan radio dengan khusyuk dan syahdu sebagaimana ayah dan jutaan rakyat Indonesia pun merasakan.

Gresik, Kamis,
17 Februari 2022 pukul 23:00
(Baca: Catatan 5 di bawah)
amroehadiwijaya@gmail.com
__________

(*)
--- Penulis buku antara lain novel OPERA VAN GONTOR (Gramedia 2010), dan Memoar Prof Dr Zaitunah Subhan: Akademisi keadilan dan kesetaraan gender Indonesia (Bunga Untukmu).
--- Koordinator umum (Ketua unum) Gerakan Anti KKN Alumni Universitas Indonesia (GAKKNAUI), dan Penasihat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Jawa Timur.
--- Wiraswasta bidang kulit di Gresik

Catatan 1:
Alhamdulillah lagu tersebut ketemu, berjudul: Lovin You, oleh: Minnie Riperton

Catatan 2:
Alhamdulillah lagu tersebut juga ketemu dari Youtube, sekitar tiga bulan sebelum tulisan ini saya reposting. Ternyata penyanyinya bukan Ummu Kalsoum, dan saya delete karena kurang bagus/tidak seperti dulu yang pernah saya rasakan. Dan sewaktu saya ingin mencari lagi untuk saya posting di sini, Eh ... tidak ketemu karena saya lupa siapa penyanyi dan apa judulnya.
😋😋😋

Catatan 3
VIDEO musik instrumentalia "Layali Lubnan" (replay) oleh National Arab Orchestra:
Foto: National Arab Orchestra, Conductor: Michael Ibrahim

🩸
https://drive.google.com/file/d/1AuT36bkAiqh3gHqFolgMB3VwnQO6dNBh/view?usp=drivesdk

Catatan 4
Kamus Al-Munjid (المُنجد)

Kamus Arab-Arab terkemuka dan terpopuler di dunia yang digunakan oleh pesantren-pesantren di Indonesia dan akademisi ini, disusun oleh dua orang pendeta dan cendekiawan Katolik asal Lebanon, yaitu Pastor Louis Maalouf dan Pastor Bernard Tutel.

Pertama kali diterbitkan pada tahun 1908 di Beirut dan sangat populer karena memuat dua bagian: kosakata umum (al-Lughah) dan ensiklopedia tokoh/tempat/sejarah (al-A'lam).

Al-Munjid (sering disebut Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A'lam) yang berhalaman ribuan, tersedia pula versi e-book Edisi digital dalam format PDF. Umumnya dicetak dalam 1 jilid tebal namun untuk kemudahan, ada juga beberapa edisi cetakan tertentu yang membaginya menjadi 2 jilid.

Catatan 5:
Tulisan ini termuat juga pada E-Book Blog Amroeh, Edisi IDUL FITRI 2026 "MELIP" Poin B.4.C.2
🩸
https://amroehadiwijaya.blogspot.com/2026/02/melip.html

Catatan 6:
Tulisan reposting (dengan editing): Hari ini, Sabtu 13 Juni 2026, dari judul asli: MUSIK 54 TAHUN SILAM (Layali Lubnan) tanggal 17 Februari 2022 Pukul 01:00 di "DAILY MAIL" Amroeh (flyer kuning di atas).

Semoga situasi dan kondisi Lebanon yang saat ini mencekam dapat segera kembali aman dan damai, Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EDISI 100 TAHUN GONTOR 2026

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA

PROFIL DH IKKAD