PAK MARZUQI AMMAR
OPINI khusus di WAG:
- GENERASI IKKAD
- PP IKKAD
- IKB KALTUM
- KELUARGA BERDASAR SILSILAH
Pengantar di WAG PP IKKAD:
Mumpung WAG gak bahas PP blas, maka perkenankan berikut saya copas tulisan saya barusan di WAG GENERASI IKKAD.
Pemicu: Ada member WAG yang nyebut nama Pak Marzuqi Ammar
🙏⬇️
____________
Tulisan ringan Minggu malam
mumpung gelem nutul HP
"PAK MARZUQI AMMAR"
Sejak dulu saya nyebut beliau, Marzuqi, dengan "pak", tanpa embel-embel KH, Almukarram dan sebagainya, khas tradisi hebat, egaliter dan jiwa merdeka.
Sama seperti kami santri Gontor dulu menyebut dua Kyai generasi pertama Gontor cukup dengan Pak Sahal, dan Pak Zarkasyi.
Cium tangan, apalagi cipika-cipiki pun tidak, kecuali kepada ibu-bapak dan Mbah, yang beda dengan era kini yang merosot jadi "kuno/jadoel", hirarkhis, teokratis, birokratis, oportunis dan mengikis harkat kemanusiaan, bahkan merangkak 'ala balita pun dianggap mulia.
Pak Marzuqi adalah:
- Ayahanda mas @BJ Abd. Mun'im Marzuqi Ammar
- Kakak dari mas @Bj Ambar Ammar dan @Bj Adzfar Ammar.
- Putra Mbah KH Ammar Faqih, di mana saya, pra sekolah, sempat bertatap muka dua kali ketika diajak bapak untuk mengaji sore di kediaman beliau (Mbah Ammar) Makumambang.
- Adalah guru saya masa MI Makumambang, pertengahan tahun 1960 hingga awal tahun 1970.
Sewaktu mengajar, bagi kami para murid, beliau terkenal "killer" metenteng, dan itu loh kalau nyubit murid yang ndablek, wuih ... sakiiiit, hihihi.
Tapi jangan lupa, keikhlasan dan kedisiplinan beliau dalam mengajar tak perlu diragukan dan ditawar-tawar, yang mendorong murid untuk belajar giat dan patuh pada petuah mulia beliau.
Suatu saat, beliau mengajar kami (kelas II MI) sesi mempraktekan cara berwudhu di kali/jublang yang berada di belakang langgar panggung dari kayu yang juga sebagai gotakan (kamar) para santri, kali yang dikelilingi pohon-pohon rindang antara lain "doro" dan "gayam" yang buahnya seringkali dimakan oleh penghuni gotakan.
Dan apa yang terjadi? Karena saya dinilai "kurang bisa" dan merasa didukani/dimarahi, maka saya nangis dan mbegog (protes dalam diam) tidak mau melanjutkan, lalu beliau dan teman-teman meninggalkan saya begitu saja, hahaha ....
Peristiwa unik lain pun terjadi.
Hari Jum'at libur sekolah, pagi, saya dibonceng speda onthel oleh bapak dari rumah, depan gerbang pasar Dukun menuju rumah Mbah-ibunya bapak, sekitar 500 meter, yang lapangannya digunakan untuk menjemur kulit sapi dan domba, bisnis bapak.
Sesampai di jalan raya (sampai sekarang) barat masjid Maskumambang, bapak menyalip seseorang yang sedang memanggul barang, saya tahu bernama pak Karsun, asal dusun Siraman, utara Maskumambang, dusun asal Abdul Salam (Panji Gumilang). Saya pun nengok tapi kemudian saya nangis keras gaber-gaber ketakutan, yang membuat bapak panik dikira kaki saya kegencet roda speda, dan orang-orang sekitar yang melihat pun keheranan.
Emangnya napa? Karena pak Karsun yang mbedidis tanpa baju, berkumis tebal itu bibirnya metot sambil mata melotot ke arah saya.
Dari kejadian itu, pak Marzuqi sempat menyapa saya dengan "hei, Karsun" sambil tertawa renyah, hehehe....
Akhir tulisan, kepada mas @BJ Abd. Mun'im Marzuqi Ammar, tolong disampaikan salam ta'dhim dan kasih saya kepada beliau, juga permohonan maaf karena lama saya tidak bersilaturahmi, teriring doa segala kebaikan kagem beliau yang sungguh berjasa kepada saya itu.
Gresik, minggu, 25 Oktober 2026
amroehadiwijaya@gmail.com
_____________
LAMPIRAN:
a)
Karena ada respons dari pembaca WAG yang menyatakan, "bersalaman cium tangan di Gontor itu merupakan hal biasa", maka berikut copas tulisan lawas tentang "cium tangan" yang termuat pada E-Book Blog saya Edisi 100 Tahun Gontor
⬇️
b)
E-Book Blog lengkap
https://amroehadiwijaya.blogspot.com/2026/02/e-book-blog-edisi-100-tahun-gontor-2026.html
Komentar
Posting Komentar