OPINI G.30.S TAHUN 2026

Flyer itu ...
"POPULARITAS, G30S,
DAN MENULIS"

Oleh: Amroeh Adiwijaya

Tidak seperti biasanya, kali ini rodok beda, di mana setiap menjelang memperingati peristiwa G.30.S PKI tanggal 30 September, di medsos rame membahas isu sisa tragedi itu, pro-kontra pada pemutaran film "Pengkhianatan G 30 S PKI" di TV nasional,

Saya juga pernah menulis pengalaman ketika sebagai Ketua umum Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (SM.FHUI), tahun 1984, yang berhasil melaksanakan program Rektor UI, Mayjen Prof Noegroho Notosusanto dalam mendapatkan film itu untuk diputar bagi kalangan civitas academica (Dosen, mahasiswa dan karyawan/tenaga kependidikan) UI saat hampir semua SM di UI gagal mendapatkan karena sedang box office di bioskop-bioskop papan atas Jakarta.

Pemutaran Film gratis dengan dana dari UI itu dapat terlaksana berkat bantuan seorang famili, bapak Mayjen G Dwipayana, pimpinan PPFN, produser film tersebut.

Versi Soft
Dengan dipostingnya poster/flyer sosok Pramoedya Ananta Toer (Pram), tokoh Lembaga Kebudayaan (Lekra) yang berafiliasi ke PKI, penulis ratusan mahakarya berbobot, di beberapa WAG, beberapa hari menjelang tanggal peringatan, itu dapat diartikan sebagai pengingat/memperingati tragedi tidak dengan "emosional" melainkan soft, lembut, dan ilmiah, tentang menulis/tulisan.

Lalu bagaimana pada tahun-tahun berikut? Hanya alam yang tahu, namun yang pasti akan mencuat lagi sewaktu terjadi perebutan kekuasaan dalam hal apa pun oleh siapa pun, dan jargon ontrang-ontrang, "dasar PKI" pun akan meluncur kembali.

Tulisan
Betul, tulisan adalah salah satu sumber sejarah tertulis yang sangat penting untuk merekonstruksi peristiwa masa lalu, yang merupakan Perekam Peristiwa: menjadi alat bukti nyata untuk mencatat fakta, kejadian, dan pemikiran.

Sebagai sumber Primer dan Sekunder yang menjadi acuan utama para sejarawan.

Juga merupakan pembeda zaman: Penemuan tulisan menandai berakhirnya masa pra-aksara (zaman sebelum manusia mengenal tulisan) dan dimulainya masa sejarah atau aksara, di mana di Indonesia, masa sejarah mulai tercatat sekitar abad ke-5 Masehi melalui penemuan prasasti.

Pram?
Lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925, meninggal tanggal 30 April 2006 di Jakarta pada usia 81 tahun.

Bagaimana pun, diakui atau tidak, dia adalah sastrawan besar.

Karyanya yang menggelegar, dengan penggambaran locus (tempat, lokasi, atau pusat kejadian) di Pabrik gula Tulangan Sidoarjo, Jawa Timur, tertuang pada novel Tetralogi (4 sekuel bersambung), karya pulau Buru tempat dia diasingkan adalah: Bumi Manusia (1980),
Anak Semua Bangsa (1981),
Jejak Langkah (1985), dan
Rumah Kaca (1988).

Keempat novel itulah yang dilarang pemerintah ORBA dengan menerapkan sensor melalui Kejaksaan Agung, melarang peredaran dan merazia siapa saja yang menyimpan atau mengedarkannya.

Pelarangan itu pula yang memperkuat alasan banyak orang tua dalam "mengharamkan" anak-anaknya untuk membaca 4 buku itu dan karya-karya Pram yang lain karena dinilai laten terkontaminasi paham komunisme-Leninisme.

Popularitas
Adalah betul ungkapan "terkenal" Pram pada flyer di atas. Dia populer karena tulisannya, dan berikut tiga Justification ,(alasan atau pembelaan yang menunjukkan bahwa sesuatu itu benar, tepat, atau adil), dan Rationalization (pembenaran yang didasarkan pada logika atau rasionalitas).

Pertama: Ungkapan legendaris dan terkenal dari tokoh/ulama besar, Imam Al-Ghazali berbunyi:
"Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!"

Menulis adalah jalur menyebarkan ilmu dan gagasan yang setara bagi siapa saja. Seseorang tidak perlu memiliki kekuasaan (anak raja) atau nasab keilmuan yang tinggi (anak ulama) untuk bisa membagikan manfaat dan dikenal sejarah. Melalui tulisan, nama dan pemikiran seseorang akan tetap hidup dan membawa pengaruh abadi bahkan berabad-abad setelah ia tiada.

Kedua: Ungkapan pepatah literasi yang memiliki makna senada, oleh Ali bin Abi Thalib, Radhiyallah 'Anhu: "Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakan dirimu di akhirat nanti."

Ketiga: Pepatah literasi umum: "Jika kamu ingin mengenal dunia, maka membacalah. Namun, jika kamu ingin dikenal dunia, maka menulislah."

Bagaimana dengan kita?

Gresik, 30 September 2026
amroehadiwijaya@gmail.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EDISI 100 TAHUN GONTOR 2026

PROFIL DH IKKAD

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA