KIM JONG UN

.
                Foto: Kim Jong Un


Opini Budaya

"CELANA GOMBRONG
ALA KIM JONG UN,
PRESIDEN KOREA UTARA"

(Mode, New York Philharmonic Orchestra, Diare/mencret, dan Diplomasi Pingpong)
_________

Meski judul di atas nampak pendek, tapi tulisan akan sedikit melebar, semoga pembaca betah.

Pertama, tentang celana gombrong (Gresik Jawa Timur: longgar), model celana perempuan yang tren masa kini.

Disebut "Wide-Leg & Baggy Pants" potongan lebar dan lurus yang memberikan kesan santai sekaligus kaki lebih jenjang

--- Atau kulot bahan (Flowy Culottes) berbahan jatuh atau rajut tipis yang adem untuk pakaian sehari-hari
--- Atau "Parachute Pants" celana ringan berbahan parasut dengan karet serut di ujung kaki untuk gaya
--- Atau "Streetwear.Cargo Denim/Pants" celana longgar berukuran besar dengan saku tempel yang digemari gaya edgy.

Mode di atas adalah pembeda absolut dengan mode sebelumnya (meski masih ada) yang menjurus sexy seperti: "Legging Panjang" celana pas badan berbahan spandek, atau dalam model lain seperti:

--- Kaus-sering dipakai untuk olahraga atau dalaman rok/gamis
--- Atau "Skinny Jeans" celana jeans berpotongan sangat pas dari pinggang hingga pergelangan kaki untuk tampilan kasual
--- Atau "Biker Shorts/Short Ketat" celana pendek ketat sebatas paha; populer untuk santai, olahraga atau dalaman
--- Atau "Legging 7/8" model celana ketat gantung di bawah betis yang fleksibel untuk senam atau zumba
--- Atau "Stirrup Legging" legging unik yang memiliki tambahan tali pengait di telapak kaki agar posisi celana tetap kencang
--- Atau rok mini untuk menunjukkan kemolekan paha dan kaki.

Keseluruhan di atas bahkan ada yang dikombinasikan dengan jilbab (kerudung hijab) yang diistilahkan dengan "Jilboob" atau "jilboobs", istilah gabungan dari kata "jilbab" dan "boobs" (bahasa Inggris untuk payudara).

Istilah yang dipakai sebagai sindiran atau sebutan bagi perempuan yang memakai jilbab tetapi mengenakan pakaian sangat ketat, sehingga bentuk lekuk tubuh atau bagian dada terlihat jelas.

Saya nyebut mode "gombrong" di atas dengan ala/model "Kim Jong Un" (lihat foto) yang di Korea Utara dilarang digunakan oleh kaum muda laki-laki, tapi embuh (entah) kalau untuk perempuan.

Tapi sepertinya boleh, karena populasi perempuan lebih banyak dari laki-laki, lagi pula pasti kebutuhan tekstil meningkat dan roda ekonomi pun melaju.

Juga untuk ngerem mata jelalatan lawan jenis.

Dan saya nyebut perempuan dan laki-laki, tidak "wanita-pria", sebagai bentuk apresiasi untuk pejuang kaum feminis, istilah bagi seseorang—baik perempuan maupun laki-laki—yang memercayai, mendukung, dan memperjuangkan kesetaraan hak, kesempatan, serta keadilan sosial di antara semua gender.

Kedua, Musik Orchestra.

Kelompok musik "New York Philharmonic Orchestra" menggelar konser bersejarah di Pyongyang, ibu kota Korea Utara, pada 26 Februari 2008.

Foto:
Konser Orchestra komposisi lengkap
------
Pertunjukan di Teater Besar Pyongyang Timur tersebut dipimpin oleh konduktor Lorin Maazel dan disiarkan langsung di televisi pemerintah Korea Utara sebagai bagian dari diplomasi kebudayaan.

Saat itu dikomposisi/ditampilkan lagu berjudul "Arirang", bukan lagu khas Korea Utara atau Korea Selatan semata, melainkan lagu rakyat tradisional (folk song) milik seluruh bangsa Korea yang sudah ada jauh sebelum semenanjung Korea terpecah.

Sepintas mengenai lagu Arirang yang berisi tentang rasa rindu, perpisahan, dan harapan:

Adalah warisan bersama: Lahir sejak ratusan tahun yang lalu pada masa Dinasti Joseon (bahkan lebih lama), diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas budaya bersama.

Asal-usul lagu, tidak ada pencipta tunggal; lahir dari kreativitas masyarakat secara kolektif, dengan catatan Awal: Tertulis dalam manuskrip tua sejak tahun 1756, namun diperkirakan berusia lebih dari 600 hingga ratusan tahun.

Lagu simbol Persatuan: Baik Korea Utara maupun Korea Selatan sama-sama mendaftarkan Arirang sebagai Warisan Budaya Tak benda UNESCO (Korsel pada 2012), dan Korut pada 2014.

Kata "Ari" yang berarti cantik/indah, dan "Rang" berarti kekasih ini, berstatus sebagai budaya, dan sering dianggap sebagai lagu kebangsaan tidak resmi Korea.

Kerap dipakai sebagai simbol perdamaian dan persatuan ketika atlet kedua negara tampil bersama di ajang internasional. 

Arirang juga pernah menjadi lagu perlawanan saat rakyat Korea dijajah oleh Jepang. Berikut dua link:

Lagu "Arirang" versi Folksong
🩸
https://drive.google.com/file/d/1mctGrqemrOuihNJRLqwcakX5dvI5Tlya/view?usp=drivesdk

Lagu "Arirang" versi New York Philharmonic Orchestra
🩸
https://drive.google.com/file/d/1Lo0qSM8qzw5qz3TGlHVPyv_rqHxdu2pt/view?usp=drivesdk

Lalu, di mana Kim Jong Un saat konser Orchestra?

Yang jelas, saat itu belum menjadi pemimpin negara.

Dia mulai memegang kekuasaan tertinggi di Korea Utara pada Desember 2011 setelah meninggalnya sang ayah, sekitar usia 42-44 tahun, dengan asumsi ia lahir antara tahun 1982-1984.

Pada Februari 2008, Kim Jong Un masih berusia sekitar 24 tahun dan identitasnya serta posisinya sebagai calon pengganti ayahnya masih sangat dirahasiakan oleh rezim Korea Utara dari dunia luar. Ia baru diperkenalkan secara resmi sebagai penerus takhta pada tahun 2010.

Kim Jong Il, sang ayah yang pemimpin tertinggi saat itu, juga memilih untuk tidak menghadiri konser bersejarah tersebut. Perwakilan resmi yang datang ke Teater Besar Pyongyang Timur hanyalah pejabat tinggi setingkat Wakil Presiden, Presidium Majelis Rakyat Tertinggi (Yang Hyong-sop), dan diplomat bidang urusan Amerika Serikat (Li Gun).

Pertimbangan politik rezim: Pihak New York Philharmonic sebenarnya tidak mengirimkan undangan langsung secara personal kepada Kim Jong Il. 

Dan menurut pers, ketidak hadiran pemimpin tertinggi di lokasi konser juga merupakan taktik diplomasi khas Korea Utara yang menutup diri guna menjaga gengsi politik di hadapan delegasi budaya dari Amerika Serikat.

Kemudian menurut desas-desus, sang putra, Kim Jong Un--saat itu sedang terserang diare alias mencret.

Pasca konser tahun 2008 di atas, tidak ada lagi misi kesenian resmi berskala besar dari pemerintah Amerika Serikat yang dikirim ke Korea Utara.

Apalagi dengan makin memanasnya isu nuklir antar kedua negara.

Ketiga, Diplomasi Pingpong.

Pengiriman konser tersebut sangat mungkin dimaksudkan sebagai "diplomasi politik melalui kebudayaan", mirip yang pernah dialami Indonesia dengan Republik Rakyat China (RRC) melalui olah raga tenis meja/pingpong.

Alkisah, Asosiasi Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI), ketua: Ali Said, menolak undangan tim tenis meja China pada Oktober 1971 dalam rangkaian peristiwa yang dikenal sebagai "Diplomasi Pingpong".

PTMSI menolak karena pemerintah Indonesia menilai bahwa menerima tawaran RRC akan meningkatkan reputasi politik RRC yang hubungannya sedang membeku dengan Indonesia pasca peristiwa 1965.

Kemudian, China sempat mencoba memperluas pengaruh gerakan diplomasi olahraga ke Asia Tenggara.

Tim tenis meja China baru secara resmi datang bertanding di Jakarta pada November 1989 saat menghadiri 9th Asian Table Tennis Championships.

Kunjungan olahraga yang disebut "diplomasi Pingpong" ini menjadi salah satu katalis penting (diplomasi olahraga) yang mencairkan hubungan kedua negara hingga akhirnya hubungan diplomatik resmi RI-RRC dipulihkan pada Agustus 1990.

Keempat, Melebar sedikit: Konser di Indonesia?

Kelompok Orchestra legendaris dan terkemuka di dunia, New York Philharmonic itu sempat menggelar konser di Jakarta pada tanggal 5 dan 6 September 1984, bertempat di Balai Sidang Senayan (yang sekarang dikenal sebagai Jakarta Convention Center/JCC.

Beberapa hal penting yang saya catat dari konser bersejarah, momen emosional tersebut adalah:

--- Konduktor: Dipimpin langsung oleh dirigen legendaris Zubin Mehta, seorang keturunan India, di mana waktu itu khalayak Indonesia banyak yang menolak kehadirannya karena dia penganut Yahudi.

Foto: Zubin Mehta

--- Karya yang Dibawakan: Salah satu repertoar utama yang dimainkan dan memukau sekitar 3.000 penonton adalah Symphony No. 5 karya Gustav Mahler.

--- Konser tersebut diwarnai dengan aksi moment of silence (mengheningkan cipta) yang dipimpin oleh Zubin Mehta untuk menghormati mantan Wakil Presiden Indonesia, Adam Malik, yang wafat tepat pada hari pertama konser tersebut digelar:

--- Harga tiket konser dijual berkisar antara Rp 5.000 hingga Rp 25.000.
Nilai uang Rp 25.000,- pada tahun 1984 itu setara dengan sekitar Rp 538.317,- hingga Rp 539.639,- pada tanggal 16 Agustus 2026 (538k), harga yang mustahil di era kini yang estimasi saya berkisar minimal lima juta untuk HTM termurah, karena harga tanda masuk (HTM) untuk nonton bola di GBK saja sudah mencapai minimal Rp 300.000,-

--- Dan saya yang penggemar musik Orchestra yang tergoda dengan info media tentang kehebatan New York Philharmonic? Alhamdulillah bisa nonton meski dengan HTM temurah, tempat duduk di balkon, berkat menabung berbulan-bulan dari wesel kiriman orang tua untuk biaya kuliah di Jakarta (menjelang wisuda), juga dari hasil usaha freelance yang halal.
---------

Mengakhiri tulisan dengan "kembali ke laptop":

Celana panjang model Kim Jong Un itu adalah berkah bagi rumah mode, penjahit, pengusaha tekstil, dan lain-lain karena bagaimanapun mendatangkan cuan dan roda ekonomi berputar hangat.

Yang beda dengan beberapa presiden Indonesia terakhir yang justeru menenggelamkan produk tekstil dengan sering mengenakan celana nyapret (Jawa: melirit sempit) ke bawah yang ngirit bahan.

Juga menumpas produk kulit asli dan turunannya karena dia sendiri sering menggunakan sepatu kets dari bahan sintetis. Kayaknya meniru style Bill Clinton, mantan presiden Amerika Setikat yang juga sering bersepatu kets.

Belum lagi dengan baju yang meninggalkan produk asli lokal, kain batik, dengan beralih ke motif polos.

Mungkin maunya cukup polosan yang murah meriah untuk gratisan massa sewaktu kampanye pemilihan Presiden, tapi nggak tahunya kebablasan.
____________
Gresik, Jum'at , 21 Agustus 2026
amroehadiwijaya@gmail.com

Foto: Bill Clinton dengan sepatu kets

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EDISI 100 TAHUN GONTOR 2026

PROFIL DH IKKAD

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA