PILDUN 2026 DUKUNG SIAPA?

MASIH MIKIR
DUKUNG MENDUKUNG
PEMENANG PIALA DUNIA 2026 KEMARIN?
____________
Apresiasi untuk Kesebelasan Spanyol



DAFTAR ISI :

(1) dan (2)
FILE opini menarik yang insya Allah mencerahkan, baik bagi pendukung Spanyol (pemenang) maupun Argentina (runner up)
(3) Sejarah dan prestasi LAMINE YAMAL bintang muda Barcelona dan Spanyol
(4) Sisi Lain: Muslimun saat Pildun 2026
(5) Kreasi AI indah untuk kemenangan Spanyol
(6) Bonus:
File lama Amroeh Ketika Argentina juara piala dunia tahun 2022
________________

(1)
"Di Final Piala Dunia, Saya Mendukung Palestina Melalui Jersi Spanyol"

ESAI PRIBADI 
Satrio Arismunandar (*)
(bebas dikutip/disebarkan)

Pertandingan final Piala Dunia selalu menjadi panggung di mana jutaan pasang mata tertuju pada selembar kulit bundar yang diperebutkan di atas lapangan hijau. 

Orang-orang akan berdebat tentang taktik tiki-taka, kejeniusan strategi, atau siapa yang layak mengangkat trofi emas. Namun, bagi saya, final kali ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan sepak bola.

Ketika peluit babak pertama dibunyikan, mata saya akan tertuju pada tim nasional Spanyol. Saya akan bersorak untuk setiap gol yang mereka cetak, dan berharap mereka keluar sebagai juara dunia. 

Namun, jangan tanya saya tentang formasi mereka, siapa penyerang andalannya, atau bagaimana rekam jejak performa mereka di babak penyisihan. Saya tidak peduli. 

Dukungan saya kepada La Furia Roja lahir dari tempat yang jauh dari stadion: dari puing-puing reruntuhan yang berserakan, dari tangis anak-anak yang kelaparan, dan dari rasa duka yang mendalam atas apa yang terjadi di Jalur Gaza.

Di seberang Spanyol, berdiri Argentina. Secara sepak bola, mereka adalah magnet. Mereka memiliki sejarah panjang dan deretan pemain bintang yang dipuja di seluruh dunia. 

Namun, ketika saya melihat jersi Albiceleste, saya tidak bisa melepaskan pandangan saya dari realitas politik yang diadopsi oleh negara tersebut. 

Di bawah kepemimpinan politiknya saat ini, Argentina telah memilih jalur yang melukai hati siapa saja yang peduli pada kemanusiaan. Mereka berdiri tegak, memamerkan kedekatan karib, dan memberikan dukungan tanpa syarat kepada Israel—bahkan di saat dunia menyaksikan salah satu genosida paling brutal di abad ini terjadi di Gaza. 

Argentina memilih untuk menutup mata, berpaling dari jeritan jutaan warga Palestina yang tanahnya dirampas dan nyawanya dihilangkan secara sistematis.

Sebaliknya, Spanyol hadir sebagai kejutan moral yang melegakan. Di saat banyak negara Barat memilih bermain aman atau justru mendanai kehancuran Gaza, Madrid berani mengambil posisi yang berbeda. 

Pemerintah Spanyol dengan lantang melayangkan kritik keras terhadap kekejaman militer Israel. Mereka tidak takut mengambil langkah diplomatik yang berani, termasuk secara resmi mengakui kedaulatan negara Palestina. 

Spanyol memilih untuk mendengarkan hati nurani publiknya yang turun ke jalan-jalan kota mendesak dihentikannya pembantaian di Gaza.

Bagi saya, dan mungkin bagi jutaan orang yang hari-hari ini diselimuti rasa sedih, marah, dan tak berdaya melihat genosida di Gaza, sepak bola telah bergeser menjadi ruang artikulasi politik. 

Ketika institusi global mandul dan hukum internasional diinjak-injak, kita mencari cara sekecil apa pun untuk menunjukkan keberpihakan pada kemanusiaan.

Oleh karena itu, jika Spanyol menang dan mengangkat trofi Piala Dunia, saya tidak akan merayakan kemenangan sebuah tim sepak bola. Saya akan merayakannya sebagai ucapan terima kasih yang tulus. 

Terima kasih kepada sebuah bangsa yang, di tengah kegelapan geopolitik global, masih menyisakan ruang bagi pembelaan terhadap rakyat Palestina.

Di final nanti, doa saya melampaui garis gawang. Saya tidak sedang mendukung Spanyol untuk mengalahkan Argentina di atas rumput hijau. 

Saya sedang mendukung Spanyol sebagai simbol bahwa nurani dan pembelaan terhadap Gaza tidak boleh kalah oleh mereka yang memilih bersekutu dengan penindasan.

Depok, 16 Juli 2026

(*) Doktor Satrio Arismunandar:
- Aktivis gerakan mahasiswa dan pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tahun 1994, aktif di organisasi perkumpulan penulis "Satupena" sebagai Sekretaris Jenderal mendampingi Ketua Umum Denny JA untuk periode 2021-2026.
- Anggota Gerakan Anti KKN Alumni Universitas Indonesia (GAKKNAUI).
- Pelanggan warteg di Depok II Tengah. Pendukung kemerdekaan Palestina.

Dua Ilustrasi:

a) Flyer kemenangan Spanyol dan bendera Palestina

b) Video humor
(Wedus Argentina):
🩸
https://drive.google.com/file/d/15jZnSJzv8TSCn4ilW-lYEB-EX0SOKVci/view?usp=drivesdk
___________________

(2)
Sepak Bola dan Cara Kita Melihat Peristiwa

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi
          (Alumni Gontor)

Beberapa hari sebelum laga final antara Argentina dan Spanyol berlangsung, beberapa kawan bertanya kepada saya tentang siapa yang akan saya dukung. Saya menjawab singkat, "Argentina dong." Mereka tidak tahu bahwa saya sebenarnya kurang mengikuti perkembangan dunia sepak bola. Selama Piala Dunia 2026 ini, saya hanya sesekali menonton cuplikan pertandingan. Itu pun pada pagi hari, sambil menunggu istri bersiap untuk saya antar ke Stasiun MRT.

Banyak perbincangan tentang sepak bola yang tidak mampu saya ikuti. Namun, justru di ruang marbot masjid, sehabis salat berjamaah, saya mendapatkan banyak penjelasan dengan bahasa yang mudah saya pahami. Pada laga final pun saya gagal menonton karena baru tiba dari luar kota. Saya langsung tertidur pulas. Sekitar pukul 04.00 saya terbangun dan melihat istri masih menatap layar iPad-nya. Saya bertanya, "Siapa yang menang?" Istri menjawab singkat, "Belum." Mendengar jawaban itu, saya pun tidur lagi dengan pulas.

Usai Subuh, saya baru mengetahui bahwa Spanyol keluar sebagai pemenang. WhatsApp pun dipenuhi beragam komentar. Ada yang bergurau sambil sedikit mengejek, ada yang bersorak merayakan kemenangan dengan menulis, "¡Que viva España!" (Hidup Spanyol!) dan "¡Campeones, campeones!" (Juara, juara!).

Satu Peristiwa, Beragam Makna

Bagi saya yang tidak terlalu mengikuti Piala Dunia, setiap pertandingan terasa biasa-biasa saja. Namun, saya sempat kaget ketika bertemu dengan seorang teman lama di area parkir Danau Situ Gintung. Penampilannya kini tampak sangat agamis. Sambil berbasa-basi, ia bertanya, "Ente dukung siapa nih?"

Saya pun menjawab seperti biasa, "Argentina dong."

Mendengar jawaban itu, ia langsung memegang tangan saya sambil bersuara lirih, "Ente enggak tahu soal VARgentina, ya? Mereka telah menzalimi Mesir yang 90 persen penduduknya bermazhab Sunni. Ente Muhammadiyah, kan? Tahu, kan, kalau Presiden Argentina, Javier Milei, itu dijuluki presiden paling Zionis di dunia? Gimana sih?"

Istri saya buru-buru memberi isyarat agar saya segera naik motor dan meninggalkan obrolan itu. Ia paham betul bahwa saya tidak memahami pernak-pernik maupun berbagai kontroversi seputar Piala Dunia. "Daripada malu-maluin, mendingan kita pergi aja...." ujarnya.

Saya pun membatin, ternyata cara orang memandang kompetisi sepak bola bisa sangat beragam, bahkan terkadang terasa liar. Saya menyadari bahwa cara setiap orang memberi makna terhadap sebuah peristiwa memang tidak mungkin dibatasi. Satu peristiwa yang sama dapat melahirkan beragam kesan, sudut pandang, dan kesimpulan karena setiap orang melihatnya dari pengalaman, pengetahuan, keyakinan, bahkan informasi yang mereka terima.

Seorang teman membagikan poster bergambar Lamine Yamal sedang memegang bendera Palestina, disertai kalimat, "Keberanian tidak diukur dari ketenaran atau jumlah pengikut. Ia diukur dari siapa yang tetap berdiri untuk keadilan ketika hal itu paling penting. Respect to Lamine Yamal." Poster itu membuat saya membaca informasi tentang Lamine Yamal. Saya membacanya sekilas, sekadar ingin tahu, lalu berhenti setelah mendapatkan informasi yang saya perlukan.

Pertandingan Sepak Bola dan Pemilihan Presiden

Meski saya mendukung Argentina, kenyataannya mereka kalah 0–1 dari Spanyol. Saya bersyukur karena kekalahan itu sama sekali tidak memengaruhi suasana batin, apalagi sikap hidup saya. Biasa saja. Saya memahami bahwa dalam setiap kompetisi selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Saya tidak sedih, kecewa, apalagi marah. Mungkin karena tidak ada apa pun yang saya pertaruhkan. Saya juga tidak mengeluarkan modal material apa pun sebagai bentuk dukungan. Risiko paling jauh yang saya terima hanyalah di-mention oleh beberapa teman karena jagoan saya kalah. Namun, gurauan itu justru saya anggap sebagai ungkapan hangat dalam persahabatan yang membuat saya senang.

Pengalaman batin yang saya peroleh dari Piala Dunia 2026 ini tampaknya akan tetap saya pertahankan saat menyikapi Pilpres 2029 nanti. Saya mungkin akan memilih salah satu calon dan memberikan dukungan kepadanya. Namun, suasana batin dan sikap hidup yang berhasil saya praktikkan selama Piala Dunia ini ingin tetap saya bawa dalam menghadapi Pilpres.

Saya memilih tidak mengomentari teknik dan strategi para pemain bola karena saya memang tidak memahaminya, sikap yang sama akan saya pertahankan dalam menyikapi berbagai analisis dan perdebatan politik. Begitu pula mengenai proses penyelenggaraan pemilu. Saya tidak ingin tergesa-gesa menghakimi atau menilai sesuatu yang tidak saya pahami secara utuh. Siapa pun yang akhirnya terpilih, saya berharap tetap akan legawa. Biarkan saja.

Di Balik Satu Pertandingan

Dari satu peristiwa sepak bola, saya belajar bahwa hampir tidak pernah ada satu pemaknaan yang benar-benar seragam. Di sekelilingnya selalu hadir beragam sudut pandang, pengalaman, kepentingan, pengetahuan, bahkan emosi yang memengaruhi cara setiap orang memaknainya. Karena itu, tidak setiap perbedaan harus disikapi dengan permusuhan. Melalui kompetisi, saya belajar tentang kedewasaan: kemampuan berpikir jernih, kesediaan menghargai cara pandang orang lain, serta kerendahan hati untuk menyadari bahwa cara saya memahami sebuah peristiwa bukanlah satu-satunya jalan untuk mendekati kebenaran.

Bisa jadi, orang lain melihat sisi yang belum sempat saya lihat, sebagaimana saya pun mungkin melihat sisi yang luput dari pandangannya. Di situlah dialog, saling menghormati, dan kesediaan untuk terus belajar menemukan maknanya.

Saya terus belajar bahwa dalam setiap kompetisi, termasuk pemilu, saya boleh memiliki jagoan, memberikan dukungan dengan sepenuh hati, dan berharap pilihan saya menjadi pemenang. Namun, kedewasaan ternyata tidak diukur dari seberapa keras saya membela pilihan, melainkan dari seberapa lapang saya menerima hasil yang berbeda dari harapan. Belajar menyikapi setiap kompetisi menjadi salah satu cara terbaik bagi saya untuk mengasah akal sehat dan menajamkan mata batin, agar mampu bercermin, menghormati hasil, menerima kenyataan, serta menjaga kebahagiaan tanpa kehilangan persaudaraan hanya karena perbedaan pilihan. 
----
Disalin dari:
https://www.suaramuhammadiyah.id/read/sepak-bola-dan-cara-kita-melihat-peristiwa
______________

(3)
Sejarah dan prestasi LAMINE YAMAL, bintang muda Barcelona FC dan Spanyol
🩸
https://youtu.be/1bbUXth2JAY?is=NtSPF_W-g0BBJCYm
______________

(4)
Sisi Lain: Muslimun Saat Pildun 2026
🩸
https://drive.google.com/file/d/1PKxCNC9jHlDr1y9M3wqUxoPgHXb6GgkA/view?usp=drivesdk
______________

(5)
Dua Kreasi indah AI pilihan untuk kemenangan Spanyol

a) 🩸
https://www.facebook.com/share/r/183LxWrZj1/

b) 🩸
https://www.facebook.com/share/r/1U4KXFDpon/
______________

(6) Bonus:
File lama Amroeh ketika Argentina juara piala dunia tahun 2022
🩸
https://amroehadiwijaya.blogspot.com/2025/03/argentina-juara.html

KURATOR

Kurator: Yang merawat, menyeleksi, dan mendokumentasikan koleksi karya seni atau pameran agar memiliki konteks serta nilai sejarah (terkategori dokomen ini), adalah:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EDISI 100 TAHUN GONTOR 2026

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA

PROFIL DH IKKAD