BEDA TULISAN AMROEH DENGAN HAMID

BEDA TULISAN AMROEH
DENGAN HAMID

Pengantar:
Tujuh (7) kumpulan tulisan ini merupakan copy paste (copas) dari WAG G'75 & Family, sejak hari Jum'at-selasa, 3-7 Juli 2026: Opini "gayung bersambut" atau kata berjawab, antar 3 (tiga) sesama anggota WAG yaitu Asril Kholid Pasaribu, A Hamid Husain dan Amroeh Adiwijaya, tentang beda tulisan Amroeh dengan A Hamid Husain.
________

(1)
[3/7, 10.45]
Asril Pasaribu menulis :

Sekedar komentar,
setelah membaca tulisan2 dari bung Amroeh dan puang Hamid terasa ada perbedaan2 gaya bahasa yg digunakan keduanya, tp klo kedua gaya ini dipadukan, sangat mungkin pesan2 yg diharapkan dpt lebih efektif tersampaikan....

Bung Amroeh cenderung menggunakan "bahasa bumi" yg enak dibaca, tp hampir tak pernah naik menjadi embun ato awan ide, tetap menjejak bumi walaupun kadang mendaki, bertahan sbg "das sein".

Sementara puang Hamid cenderung menggunakan bahasa langit yg hampir saja tak pernah menukik menjejaki bumi, walaupun kadang menjadi embun yg bisa menyentuh gunung, tp tetap sbg "das sollen".

Seharusnya kedua shohib ini bergabung untuk mewujudkan tulisan2 yg berupa "das sollensein" ato "das seinsollen", moga2 berkenan mohon maaf bila keliru....

(2)
[3/7, 16.24]
Amroeh Adiwijaya merespons:

Syukran, terima kasih atas ungkapan bernas antum di atas, akhy Asril Kholid Pasaribu yang alumnus Fakultas Hukum UII Yogyakarta, dan mantan hakim/anggota panel ahli mahkamah pelayaran (berkedudukan di bawah naungan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia), di mana terakhir kali kita bertemu di hotel SAPTANAWA Gresik (2008) sewaktu antum beracara menginspeksi sebuah peristiwa kecelakaan kapal di Gresik.

a) Tema penulisan

Perbedaan (saya sebut dengan) "tema" penulisan, antara saya dengan Bib A. HAMID HUSAIN, juga penulis-penulis lain, tentu ada, dan itu merupakan "ciri khas" atau kemauan/pilihan masing-masing penulis.

Bisa jadi benar kata antum, tema tulisan saya yang dalam ilmu hukum disebut "das sein", yaitu sesuai realitas atau peristiwa konkret yang benar-benar terjadi di masyarakat (kenyataan empiris) ....

Sedangkan tulisan Bib Hamid adalah "Das sollen" yaitu norma, aturan, atau kondisi ideal yang seharusnya terjadi.

Tapi jangan lupa, dalam filsafat dan ilmu hukum, keduanya merupakan konsep penting yang saling melengkapi.

Saya sendiri kadang menulis beberapa judul dengan tema campuran antara Das sollen dan Das Sein, tapi sering kembali ke "Das sein" meski dengan campuran Das sollen karena pikir saya, masih banyak peristiwa sejarah sederhana yang saya lihat dan alami yang perlu diketahui oleh anak-cucu, hehe...

b) Gaya penulisan

Dalam gaya penulisan, menurut saya, setiap penulis bisa seirama, karena bisa dipelajari dengan banyak membaca dan menulis.

Contoh: Bisa meniru gaya Gramedia atau Kompas yang sekarang menjadi panutan sebagian besar penulis.

Akhirul kalam

Saya dengan Bib Hamid, Alhamdulillah sering "berbalas pantun" yang tentu berefek bisa saling menimba ilmu.

Dan saya senang dengan adanya interaksi kita, akhy Asril, yang tentu membuat saya makin termotivasi untuk terus menulis dengan lebih baik.

Salam hormat, sehat sejahtera untuk kita semua, juga untuk segenap member WAG ini.
Syukran, wassalam
amroehadiwijaya@gmail.com

(3)
a-- [6/7 09.24] A. HAMID HUSAIN merespons: 

Syukran jaziilan atas respon Opung kita Bib Asril Pasaribu.
Catatan yang sangat menggugah utk tambah rajin menulis, apa lagi didamping oleh mentor ana Bib Amroeh yang bahasanya enak dibaca dan runut, rinci.

Baarakallaahu Fiikum.
Alfaatihah


b-- [6/7 09.25] A. HAMID HUSAIN merespons (Untuk Amroeh):
Ana baca 3 kali berulang ulang. Karena ingin meniru bahasanya yg runut

(4)
[6/7 09.59] G 75 Asril Pasaribu menulis:

Alhamdulillah, kedua penulis, baik "orang bumi" maupun "orang langit" dapat menerima apa yg ana kemukakan, tp belum menjawab apa yg disarankan..

Sebenarnya banyak orang yg menginginkan puang Hamid bisa mengajak bung Amroeh menerawang naik ke langit dan membuka sedikit pintu langit, shg menghasilkan pendapat ato ide2 untuk 100 th. Gontor ke depan....

Ato bung Amroeh berkenan menarik puang Hamid untuk turun menukik ke bumi, shg tercurah habis segala ide2 dalam kenyataan hidup masyatakat dalam bentuk keberanian berpendapat.....

Saya yakin, dg gabungan kedua pihak akan dapat melahirkan pendapat atau ide2 untuk masyarakat, terutama dalam rangka 100 th. Gontor... insya Allah ..,amin yra.

(5)
[6/7 17.09] Amroeh Adiwijaya merespons:

Syukran kaman/lagi, akhy Asril Pasaribu.

Lucu dan sesuatu yang baru, antum menggunakan lagi istilah "orang bumi" untuk saya/penulis, dan "orang langit" untuk Bib Hamid, meski sebenarnya semua tulisan bisa diartikan, tepatnya dikategorikan pada keduanya, layaknya pada sebuah karya seni lukis.

Kalau pada karya seni lukis ada aliran "abstrak" atau Abstraksionisme, di mana semua orang bisa/boleh mengartikan sesuai imajinasinya, maka begitu juga tulisan, "das sein" bisa diimajinakan "das sollen", dan sebaliknya "das sollen" diimajinasikan "das sein".

Jadi, karena "tema" tulisan adalah sebuah pakem (patokan) minat bagi penulisnya, maka sebenarnya pembaca tidak perlu mengharapkan perubahan apapun dari penulis/sebuah tulisan, tapi cukup dengan mengembangkan imajinasinya sendiri, sehingga seperti istilah Jawa, "digatuk-gatukno gatuk" alias dihubung-hubungkan pasti terhubung atau nyambung.

Contoh, kalau sebuah garis lurus (saja) bisa diimajinasikan ke mana-mana, maka begitu pula sebuah tulisan.

Dengan demikian, kalau tulisan saya dengan tulisan Bib Hamid itu beda, maka kita nilai sebagai perbedaan yang positif, yang insya Allah masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Dan khusus "tema" tulisan-tulisan saya yang kata antum "Das Sein", yang tentu terfigurasi pada E-Book Blog Edisi 100 tahun Gontor itu, dengan imajinasi pembaca, insya Allah bisa juga menjadi sumbangan pemikiran sederhana untuk "gelombang kedua 100 tahun Gontor", almamater kita tercinta.

Kalaupun tidak, atau diabaikan, maka no father (Gak papa), dan saya hanya berucap, "hanya itu yang mampu saya persembahkan".

Adapun kalau ada pembaca yang tidak sependapat pada sebuah tulisan, dalam dunia jurnalisme, yang dapat dilakukan sesuai Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik adalah Hak Jawab dan Hak Koreksi, serta hak wawancara, dengan prinsip-prinsip:

--- Hak Jawab: Hak seseorang, sekelompok orang, atau organisasi untuk memberikan tanggapan atau sanggahan terhadap pemberitaan pers yang merugikan nama baik mereka. Media massa wajib melayani Hak Jawab ini.
-- Hak Koreksi: Hak setiap orang untuk membetulkan kekeliruan informasi yang diberitakan oleh pers, baik tentang dirinya maupun tentang orang lain.
-- Kewajiban Menjawab (Wawancara): Dalam proses reportase, jurnalis memiliki hak untuk mencari informasi dengan bertanya kepada narasumber. Sebaliknya, narasumber tidak memiliki kewajiban hukum untuk menjawab, tetapi menolak menjawab dapat berujung pada munculnya hak jawab jika berita yang diterbitkan keliru dan merugikan

Dan betul, jika hak dan kewajiban di atas digunakan, maka akan tercipta dialog yang baik dan fair sekaligus mengasah menuliskan pendapat, tidak diam, sekedar nggerundel atau berujar, "biarin, sak karepmu, sak pegelmu, yang penting kafilah tetap berlalu", atau lebih sadis, "biarkan anjing menggonggong kafilah berlalu", wkwkwk ...

Terakhir: Apakah mungkin ada kolaborasi tulisan saya dengan Bib Hamid? Tentu mungkin, seperti sering ada satu tulisan/judul dengan dua penulis atau lebih, tapi bagi kami berdua kayaknya sulit terlaksana karena kesibukan masing-masing.

Wassalam.
Sekali lagi, saya senang dengan interaksi antum di WAG ini, salam hormat dan syukran.

Catatan:
1. Respons singkat Bib Hamid dan tulisan antum+saya di atas, juga sudah saya susul-masukkan ke E-Book Blog saya Edisi 100 tahun Gontor Poin 26 (tulisan ini).
2. Kalau tulisan saya di bawah, menurut antum terkategori bertema apa, akhy Asril?
(Bonus) ⬇️

🩸
https://amroehadiwijaya.blogspot.com/2025/02/deus-ex-machina-amroeh-adiwijaya.html

(6)
[7/7 14.37] Asril menulis lagi

Afwan ato nuwun sewu ya akhi Amroeh atas komentar ana berkaitan dg tulisan antum berdua, yg bukan berupa penilaian positif ato negatif, tp dari sisi lainnya (kita punya teori basic akademic yg sama), bahkan ana salut dg karya antum ttg panggung Gontor, yg tidak begitu luas, tp bisa antum ceritakan dalam ratusan halaman.

Saya terima buku itu sbg hadiah dari antum waktu kita ketemu di Gresik. Enak dibaca dan perlu, karena terekam dalam memori ingatan ana dalam bentuk yg hampir pas dg lakon di panggung yg ana mainkan.

Disamping itu ana pun membaca sebagian tulisan2 antum yg dipublikasikan di gwa ini, kemudian ana coba bandingkan dg tulisan2 puang Hamid.

Berdasarkan perbandingan inilah ana berpendapat bahwa :
1. Tulisan antum itu dikategorikan sbg "tulisan orang bumi"(das sein), yg sangat bagus dikemukakan dg tetap bertahan dalam kenyataan/realitas;
2. Tulisan puang Hamid, ana sebut sbg "tulisan orang langit"(das sollen), yg me-layang2 di udara, walaupun berupaya turun tp hanya berupa awan ato embun yg tidak menyentuh bumi.

Kedua tulisan ini apabila tetap bertahan pada posisinya mungkin akan sulit dikategorikan sbg tulisan ilmiah, karena akan jarang melahirkan pendapat yg didukung pemecahan masalah dg metodologi teruji.

Memang kadang bung Amroeh mencoba naik melayang keatas, tp ana amati kondisi spt layangan putus terkendali. Maka dari itu, coba ditarik itu puang Hamid spy membumi, karena beliau sangat menguasai bahasa langit (das sollen), dan dia punya kunci yg bisa buka lemari langit.

Hal yg sama juga ana sarankan pd puang Hamid agar bisa merangkul bung Amroeh untuk membumikan bahasa langit, shg materi dari true story itu bisa menggunakan bahasa bumi.

Pada dasarnya dalam teori hukum sekuler mengemukakan bhw segala norma/peraturan (das sollen) lahir dari kebiasaan masyarakat dalam kenyataan (das sein), sedangkan hukum Islam cenderung lahir firman Allah (das sollen) yg harus diterapkan dalam kehidupan masyarakat (das sein).

Demikian pendapat ana yg mungkin keliru, al'afwu minkum wa syukron...

(7)
[7/7 18.25] Amroeh merespons Asril;

Syukran katsiran atas opini kesekian antum di atas (sudah saya susul-masukkan ke E-Book Blog) yang insya Allah dapat saya pahami.

Saya sadar, tulisan-tulisan saya, kalau di istilah musik adalah jenis populer (pop), tidak jenis "klasik", tapi agar menarik, kalau dibaca sedikit jeli, ada juga kok unsur klasik/ilmiah "kekinian" nya.

Apalagi tulisan yang saya buat di sela-sela kesibukan rutin itu lebih banyak saya posting di media online/medsos, meski beberapa judul insya Allah nantinya akan saya bukukan (cetak) secara "print on demand". Dan Alhamdulillah sudah ada dua judul buku yang insya Allah akan diterbitkan Gramedia.

Adapun kalau harus ilmiah murni, antara lain dengan melakukan penelitian ilmiah (segala), kalau saya lakukan, kayaknya lebih baik saya fokuskan membuat tesis atau disertasi untuk mengambil gelar Master atau Doktor, sesuatu yang tidak mungkin apalagi saya sudah terkategori gen "uzur", hehe...

Mengenai buku yang saya hadiahkan sewaktu kita bertemu di Gresik itu, adalah buku yang diterbitkan UM Press, penerbit Universitas Negeri Malang (d/h IKIP Malang) yang kemudian (2010) dengan tambahan sumbangan tulisan Epilog dari KH Hasyim Muzadi, almarhum, diterbitkan oleh Gramedia dengan judul "Opera Van Gontor", sub judul "Kronik dunia pesantren" yang bermakna "Novel" populer/pop tidak buku ilmiah.

Demikian Akhy Asril, sekali lagi saya senang dengan masukan antum yang insya Allah membuat saya makin giat menulis dengan lebih baik.
Salam sehat wa-syukran
🙏

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EDISI 100 TAHUN GONTOR 2026

PROFIL DH IKKAD

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA