GIBRAN NGERPEK

⬆️ Foto didapat penulis saat tulisan ini diposting di sini (15 Mei 2026)

_______________

Obrolan siang

“GIBRAN NGERPEK?”


Latar belakang tulisan:

Merespon tulisan satu member WAG yang “menggugat”  Gibran (Calon wakil presiden) melihat catatan sewaktu kampanye di TV.

Dan saya posting di sini karena ada sedikit cerita tentang "Pak Zar", kyai besar Gontor.

 ____________

Saya nyoba komen video Gibran dari mas @G/UI Sahibul Munir & ungkapan bang @G/UI Abdossomad di atas dengan bahasa awam, bukan filosofis seperti bang Somad, hehe....:

Ini bukan bermakna permisif pada semua hal melainkan sekedar "memaklumi".

Di hati saya terpatri betul didikan almaghfurlah pak Zar, kyai besar Gontor yang selalu membawa kerpekan kertas kecil ketika berpidato pada momen apapun, di mana beliau mengungkapkan kepada santri di aula Gontor (BPPM), antara lain, "tidak usah malu, bawalah kerpekan yang berisi pokok-pokok pikiran agar pidatomu bisa fokus/tidak ngelantur".

Saya nalar sendiri, beliau selalu melakukan itu bahkan pastinya sudah ratusan kali berpidato.

Dan kalau masa itu sudah ada HP pasti kerpekannya bukan di kertas kecil melainkan di HP, hehe....

Dan tentang Gibran yang nyontek saat pidato, dengan alat sejenis itu atau yang lebih canggih, berdasar didikan pak Zar di atas, maka saya pikir lumrah-biasa, bukan hal yang tabu, di mana banyak dilakukan oleh siapapun bahkan tokoh negara manapun.

Dan amati saja, semua kepala negara yang pidato di forum PBB dengan membaca teks.

Apalagi kalau membuat rekaman video pidato resmi, alat semacam itu selalu digunakan, dan kalau nggak, pasti sangat menyita waktu karena pengambilan gambar dan suara harus diulang dan diulang.

Juga tidak aneh kalau menggunakan alat penerjemah bahasa, atau melalui tenaga penerjemah ketika berpidato, lha wong pak Harto yang pemimpin besar aja melakukan, dan sedikit melenceng, No Father (Gpp ketika menteri-menterinya pun bicara Inggris dengan logat Jawa.

Ada memang orang yang pintar bahasa asing dan pidato ngelontok tanpa teks/kerpekan, tapi kebanyakan berlanjut ngelantur nggak karuan yang akhirnya berlaku pepatah, "mulutmu harimaumu".

Maka betul, masyarakat kudu berwawasan luas, melek teknologi dan tips berpidato yang baik, membawa dan memakai kerpekan pun kudu bisa memahami sehingga nggak komen asbun seperti Roy Suryo (video di atas).

Salam sehat bahagia untuk kita semua.

Gresik, 14 Desember 2023, Pukul 13:51

amroehadiwijaya@gmail.co

Komentar

Postingan populer dari blog ini

🔵 SOFIAN EFFENDI

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA

KOPERASI IKKAD (SEJARAH PEMBENTUKAN)