KATA PENGANTAR UNTUK BUKU TM
KATA PENGANTAR
UNTUK BUKU
TOGAP MARPAUNG
"AKANKAH INDONESIA
MEMILIKI SENJATA NUKLIR?"
Oleh: Amroeh Adiwijaya (**)
Seri Buku Pentalogi Nuklir "Memaknai Nuklir" karya--buku kesekian puluh saudara Togap Marpaung yang ditulis/diterbitkan saat perang Iran vs Israel-USA ini relevan dan menarik karena bisa jadi perang akan menjurus pada pemakaian senjata nuklir oleh masing-masing pihak, meski sang penulis pernah mengatakan kepada saya, "itu tidak mungkin".
Dan atas permintaan penulis yang sesama aktivis di Gerakkan Anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme Alumni Universitas Indonesia (GAKKNAUI), saya menyatakan bersedia untuk menyumbang tulisan Kata Pengantar ini karena berkorelasi, yaitu jika Indonesia berhasrat untuk membuat "tenaga nuklir" untuk berbagai keperluan, maka menerapkan aturan tegas tanpa kompromi pada "anti KKN" adalah mutlak.
Dari realita "tenaga nuklir" yang telah digunakan Indonesia di berbagai bidang terutama kesehatan, yang perlu dicermati adalah sejauh mana perkembangan kesiapan Indonesia dalam rencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang menurut informasi, saat ini telah mencapai tahap krusial, nuklir bukan lagi sekadar opsi terakhir, melainkan bagian dari strategi transisi energi nasional, di mana pemerintah menargetkan PLTN pertama beroperasi pada kurun waktu 2032-2034.
Dalam hal di atas, telah siapkah Indonesia dalam hal-hal antara lain: Peraturan/perundang-undangannya? Target Pembangunan, kapasitas dan target jangka panjangnya? Infrastruktur, SDM, dan teknologinya? Mengatasi tantangan dan
pendanaannya?
Jika pun telah siap dan agar nuklir aman, maka yang terkategori utama dan krusial adalah mampukah penyelenggara/negara berlaku jujur, transparan dan bersih dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)? Mengapa? Karena keamanan nuklir bukan hanya soal teknologi, melainkan juga integritas tata kelola pemerintahan (good governance).
Dalam manajemen nuklir, transparansi dan bersih dari KKN sangat mutlak, dan jika sedikit saja abai, maka yang akan terjadi adalah: Dalam hal pengadaan dan manajemen dapat menyebabkan penurunan standar keamanan. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk membangun infrastruktur nuklir yang kokoh, pengadaan alat keselamatan yang standar, atau pengelolaan limbah yang aman, dapat menguap akibat korupsi, sehingga mengancam pertahanan dan keamanan.
Dalam hal transparansi dan Budaya Keamanan (Safety Culture): Budaya keamanan yang tinggi -- yang memprioritaskan keselamatan di atas segalanya -- hanya dapat terwujud dalam lingkungan yang jujur, terbuka, transparan dan akuntabel.
Pada pengelolaan limbah yang aman: Pengelolaan bahan bakar dan limbah radioaktif jangka panjang membutuhkan keahlian, dedikasi, dan pengawasan yang ketat. Maka integritas negara diperlukan untuk memastikan limbah tersebut tidak disalahgunakan atau dibuang secara sembarangan yang dapat mencemari lingkungan.
Dan kepercayaan Publik: Edukasi dan komunikasi yang jujur dan terbuka mengenai risiko dan manfaat nuklir adalah penting dilakukan.
Negara yang bersih dari KKN akan lebih mudah menerapkan safeguards (pengamanan) nuklir yang ditetapkan secara internasional, guna mencegah pencurian, sabotase, atau transfer ilegal bahan nuklir.
Berikut adalah "seandainya" Indonesia telah memiliki PLTN, akankan dikembangkan pada memproduksi senjata nuklir demi pertahanan negara seperti cita-cita Bung Karno karena terinspirasi suksesnya uji coba bom atom pertama Republik Rakyat Tjina (RRT) tanggal 16 Oktober 1964, cita-cita yang pupus setelah Bung Karno dilengserkan tahun 1965/1967?
Jawaban saya meski bisa jadi sedikit beda dengan ideologi sang penulis/Togap Marpaung, adalah, "why not?" Ya, meski Indonesia telah memasukkan diri ke dalam ZOPFAN (Zone of Peace, Freedom and Neutrality), yang salah satu bagian utama adalah wilayah ASEAN harus bebas dari senjata nuklir, kesepakatan yang ditanda-tangani oleh negara-negara ASEAN pada tanggal 15 Desember 1995 di Bangkok (Traktat Bangkok).
Dengan memenuhi hal-hal positif--yang seharusnya di atas, dan dengan tujuan mulia serta diiringi dengan trik dan strategi jitu, pasti bisa!
Kepada segenap pembaca, selamat menelaah karya bermutu ini.
Gresik,
Sabtu 28 Maret 2026
---------------------------
(**) Koordinator umum GAKKNAUI
Komentar
Posting Komentar