🚦WISUDAKU FHUI
(1)
[15/2 20.07] Oleh: Amroeh Adiwijaya:
Mas BS, matur nuwun atas postingan itu, dan mumpung sempat, berikut saya tulis nostalgia sambil sesekali tersenyum, dan mbrebesmili sesenggukan haru karena mengenangkan bapak-ibu saya yang telah tiada
😃😢🙏⬇️
(2)
[15/2 20.09] Oleh: Amroeh Adiwijaya:
Cerita Nostalgia Masa Muda
"WISUDAKU FHUI
KOLO SEMONO"
Momen wisuda di UI kemarin tanggal 14 Februari 2026 seperti postingan itu, saya menerawang jauh pada wisuda S1 FHUI saya yang tanggal sama, 15 Februari tapi tahun 1985, 41 tahun yang lalu.
Tanggal 31 Desember 1984 sekitar pukul 13.00 WIB, di gedung Balai kota DKI Jakarta, di satu ruang kerja dosen saya yang seorang anggota TNI AD berpangkat Kolonel, saya menjalani ujian tertulis untuk (hanya) satu mata kuliah yaitu Kewiraan, di mana sebelumnya saya telah menjalani ujian 3 kali tapi tidak lulus. Adapun mata kuliah yang lain sudah saya tempuh seluruhnya dengan baik.
Sekitar dua jam kemudian beliau menyampaikan keputusan dan menyatakan 3 hal:
Pertama: Sebenarnya anda belum lulus, dan itu menjadi tanda tanya besar bagi saya mengapa anda sampai begitu, padahal anda adalah mantan ketua Senat Mahasiswa (SM) Fakuktas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) yang pemilihan umumnya terdahsyat di antara seluruh SM di UI, di mana anda memenangkan pemilihan dari para rival yang hebat-hebat itu?
Kedua: Dengan banyak pertimbangan, saya nyatakan anda lulus dengan nilai C (D=tidak lulus). Untuk itu setelah ini harap anda langsung datang ke bagian administrasi FHUI untuk menyampaikan hasil nilai dari saya, karena hari ini hari terakhir pengumuman judisium agar anda dapat mengikuti wisuda pada bulan Februari 1985 mendatang.
Ketiga: Saya membuat syarat (sambil menunjukkan satu lembar foto), anda harus mau untuk saya jodohkan dengan keponakan saya, anak tunggal dari seorang Laksamana TNI AL di Surabaya. Untuk itu, nanti malam anda saya undang hadir ke rumah saya di daerah Kebayoran Baru Jakarta untuk bertemu dengannya. Setelah ini dia yang berada di Surabaya itu akan saya telepon agar siang' atau sore ini bisa terbang ke Jakarta.
Setelah berucap terima kasih, saya menambahkan, "untuk acara nanti malam sesuai usulan bapak itu, perkenankan saya mohon maaf bapak, saya tidak bisa karena setelah dari kampus Rawamangun nanti, saya akan langsung berangkat ke Gresik dengan bus malam, untuk segera menyampaikan berita baik ini kepada kedua orang tua di Gresik, juga agar beliau-beliau dapat mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk hadir pada wisuda bulan Februari mendatang".
Kedua orang tua hadir
Alhamdulillah dan sungguh membahagiakan hati, bapak ibu berkenan untuk rawuh (hadir) bersama dua adik laki-laki saya yang masih usia sekolah, dan Alhamdulillah beliau semua bisa masuk ke ruang/hall acara yaitu Jakarta Convention Center (JCC), Balai Sidang Senayan, karena saya berhasil mendapatkan kartu undangan yang cukup bahkan dua kartu yang tidak terpakai.
Yang bagi diri saya sendiri merupakan hal aneh dan ngawur sekaligus mengharukan, pada wisuda itu saya menggunakan toga pinjaman yang (kemudian) dilanjut diberikan olehnya, seorang sahabat yang telah mengikuti wisuda sebelum saya, Boedi (Malang).
Syukur saya diberi secara cuma-cuma alias tanpa uang pengganti, karena kemudian toga itu dipinjam seorang teman tapi dihilangkan, bersamaan pula dengan hilangnya "jaket kuning" almamater kebanggaan yang dipinjam entah oleh siapa. Tentu saya merana karena tidak memiliki toga dan jaket kenangan kampus tercinta..
Empat tamu terhormat dan terkasih saya itu bermalam di rumah sewaan (tidak kost)_saya bersama tiga sahabat pramugari dari maskapai penerbangan Garuda Indonesia Airways (GIA) yang berlogo burung Garuda warna merah maroon itu, di jalan Sunan Kanoman Rawamangun Jakarta Timur.
Tapi betulkah di rumah itu saya cowok sendiri? Betul, maka tidak heran kalau banyak kawan-kawan sesama mahasiswa dan alumni UI (cowok) yang senang main ke rumah saya.
Bagusnya adalah tidak membuat repot ketiga pramugari serumah yang cantik-cantik dan baik hati (salah satunya adalah model tunggal iklan GIA) itu, karena kebetulan sedang bertugas untuk beberapa hari ke luar negeri.
Tapi setelah datang, mereka serempak bilang, "wah, sayang banget nggak bisa ketemu calon mertua dan adik ipar Ya....", hehe...
Dan Alhamdulillah-nya, sempat bertemu dengan kedua orang tua saya ketika mereka berkunjung ke rumah-desa saya, Gresik.
Setiba di rumah setelah dari JCC dan santap siang di resto Padang "Sederhana" di jalan Sunan Giri Rawamangun, tak terduga bapak ngendikan/mengatakan kepada saya: Am (begitu biasa beliau memanggil saya), apa kamu tidak merasa malu kepada teman-temanmu yang metropolis itu karena bapak ibu ini dari desa?", sesuatu yang membuat saya kaget dan menangis.
Saat itu juga saya langsung menghampiri dan memeluk beliau sambil berkata terbata-bata: Bapak, tak terbetik sedikit pun di hati dalem (saya) memiliki rasa seperti itu, bapak, karena bapak dan ibu adalah satu kesatuan pahlawan pujaan dan kebanggaan hati dalem yang sejati-sepanjang hayat di kandung badan.
Kemudian Ibu dan dua adik pun bergabung saling berpelukan sambil bertangisan, lalu bapak membimbing kami untuk melafalkan secara bersama-sama satu kalimah tauhid, ALLAHU AKBAR, Allah maha besar, berulang-ulang.
Allahumma ighfir lahuma warham huma fi jannatika anna'im: Ya Allah mohon diampuni kekhilafan beliau berdua dan karunikan beliau berdua berupa kasih sayang di surga nan bahagia-Mu.
Amin YRA.
🙏
Gresik, Minggu pasca salat Maghrib,
15 Februari 2026.
amroehadiwijaya@gmail.com.
Komentar
Posting Komentar