📍TRAUMA MASA LALU
“TRAUMA MASA LALU"
(1)
Hey, H.Amiruddin Hamid (HAH), raisul muhadharah ALI BIN ABI THALIB Gontor tahun 1974, saya a'dhauka maujud hunaa! Ada apa gerangan, kok ente kayak mau tenggelam aja?!
Kalau ada kayak gitu lagi, tulis aja di WA yang muncul warna biru kayak tulisan/kata MUNZAINI ini, sehingga saya tahu meski saya nggak perlu baca lengkap.
Perkenankan saya kaitkan dengan ungkapan mas MUNZAINI di atas:
Bagaimana pun kita harus tahu aneka pandangan members WAG ini. Dan bagaimana paham akhina HAH asal Sulsel itu, kita pun kudu tahu.
Begini yang saya tahu:
HAH, shahib kita yang meski nampak "kosro" spontan apa adanya itu sejatinya hatinya lembut, tulus setulus rakyat Indonesia yang cinta NKRI, ingin hidup damai dengan sesama, nggak ingin mau menang sendiri.
Beliau anti kekerasan meskipun, umpama, seperti menginjak semut, dan itu ada sebabnya.
Lha kok HAH mosting video gituan? Jalan pikiran beliau pasti hanya satu, ingin agar hal seperti tidak terulang.
Sebagaimana dulu beliau pernah tulis di sini, masa kanak-kanaknya melihat dengan kepala sendiri bagaimana gerombolan DI/TII di Sulsel, di sana mengeksekusi lawan-lawannya dengan sadis di tengah lapang yang harus disaksikan oleh semua warga termasuk beliau.
Kejadian itu sebuah tragedi traumatik, sehingga beliau tidak rela hal serupa terulang di mana pun, dan kita tentu masih ingat, beliau pernah left dari WAG ini karena buzzer yang ada di WAG ini memosting ugal-ugalan, juga yang hoax, yang intinya agar kita-kita rela bunuh-bunuhan dengan sesama anak bangsa. Dan buzzer sendiri? Bisa ditebak, berani ontrang-ontrang cuman di WAG.
Pengalaman HAH di atas mirip dengan pengalaman saya, di mana dengan mata kepala kanak-kanak saya (1966-1967), melihat langsung bagaimana tindakan kekejaman sadis, tumpahan darah berceceran dan ribuan bangkai manusia mengikuti arus aliran Bengawan Solo, akibat saling serang antar sesama anak bangsa (Novel OPERA VAN GONTOR, Gramedia 2020).
Tentu kita bertanya, bagaimana solusi untuk damainya NKRI ini? Pasti perlu diskusi panjang, dan menurut saya yang simple yang bisa kita perbuat di WAG ini adalah berdiskusi kemanusiaan, tepatnya mungkin jalan "Sufis" yang bisa membuat kita yang tidak muda lagi ini tenang lahir batin, dan wafat masuk sorga.
Yang masih gembuyakan, biarlah mereka-mereka (juga saya kalau lupa! hehe...) yang masih nyari posisi politik, di sono-tidak di WAG ini. Kita nggak perlu ikut-ikutan apalagi sekedar jadi "kambing congek" di WAG ini.
Kalau bisa, WAG jadi semacam "our dream home" tempat rehat dari kepenatan di luar yang gerah kemrungsung.
Hanya apakah bisa diikuti para buzzers misal, YACUB BUCHORI, Syamsuddin Anwar Shodiq atau MA Ritho Lidinillah, dan lain-lain? Bisa, asal mauuuuuu.
Akhy, kebetulan kita sama-sama mengalami trauma psychis kekejaman kemanusiaan masa lalu yang berdarah-darah, yang beda dengan buzzers yang bisa jadi masa kecilnya dikempit dan diteteki terus di ketiak ibunya, dan sekarang "mbruwah": Melampiaskan yang dulunya terkekang.
Tambahan untuk HAH: Akhy, kebetulan kita sama-sama mengalami trauma psychis kekejaman kemanusiaan masa lalu yang berdarah-darah, yang beda dengan buzzers yang bisa jadi masa kecilnya dikempit dan diteteki terus di ketiak ibunya, dan sekarang "mbruwah": Melampiaskan yang dulunya terkekang.
----
Maaf, kepada segenap member, kalau tulisan ini salah, ane nggak perlu dipidanakan, nggiiiih!?
Salam sehat selamat.
-------------------------------------------------------
Komentar
Posting Komentar