🚦TEORI PENDIDIKAN ISLAM
OPINI BERBALAS
"TEORI PENDIDIKAN ISLAM"
1) Opini Amroeh merespons opini Jamaluddin Abdullah:
Hallo, akhy Jamaluddin Abdullah, Lombok.
Alhamdulillah kita pernah bertemu di Ponpes antum (saat opening seremoni) dan di hotel sewaktu reuni ABU SITTIN Lombok 4-6 Maret 2022 yang lalu. Maka perkenankan saya beranikan diri untuk menulis ini.
Ungkapan penjelasan "sistem" antum dalam "LIMA YUHYIKUM" itu bagus semua, sama sekali tidak ada yang saya kritisi.
Hanya pemahaman saya, ungkapan antum di atas adalah definisi ilmiah dari hal yang sejatinya sederhana, atau lebih kerennya dibuat layaknya teori Inggris (kebarat-baratan), pas sesuai ilmu S3 antum, dengan tujuan untuk menarik peserta didik.
Teori itu, kalau boleh saya simple-kan dan simpulkan adalah bagaimana cara agar anak didik bisa kembali ke buku, "back to book", keluar dari ketergantungan pada gadget, kemudian diarahkan terkhusus pada buku/literasi Al-Qur'an, yang dari situ diharap mampu berinovasi/berkreasi pada ilmu-ilmu yang lain.
Catatan:
1) Kalau dijadikan ungkapan/teori sederhana, maka antum dan staf tidak perlu capek-capek menjabarkan kepada anak didik, dan cukup mengaplikasikan dengan intensif, atau mungkin ditekankan pada penanaman "disiplin".
2) Maksud saya: Literasi Al-Qur'an di atas bermakna tidak perlu mengarahkan anak didik pada menghafalkan Al-Qur'an, karena pasti akan membuat anak didik benar-benar berat/terkuras energi, lagi pula pendidikan "hafidz" sudah terlalu umum.
Gresik, Sabtu
15 April 2023.
Salam hormat, sehat sukses untuk antum dan segenap keluarga besar pondok pesantren Alam Sayang Ibu.
Syukran.
amroehadiwijaya@gmail.com
_____
2) Setelah direspons singkat, Amroeh beropini lagi:
Syukran lakum, akhy @G.Jamaludin Abdullah PANPEL LOMBOK '22!
Sekali lagi tanggapan saya, teori pendidikan antum dalam taksonomi Bloom & Batatsa dalam buku "Lima Yuhyikum" dan teori lain apapun, yang penting bagi anak didik dapat meraih keberhasilan, yang intinya (terkini) mampu bersaing dalam berkompetisi meraih masa depan, yang boleh disimpulkan imbang pada "link and match" di mana masa kini adalah mutlak lebih rasional alias tidak semata pendidikan demi "ibadah".
Lebih jauh saya berharap teori yang antum terapkan di ponpes Alam Sayang Ibu yang meski nun jauh dari pusat budaya bangsa (Jawa) itu dapat terlaksana "hebat" sehingga dapat menarik anak didik dari seantero Nusantara.
Dan masa kini peran IT sangat perlu dikedepankan.
Dan yang sering saya ungkapkan kepada pimpinan sebuah lembaga pendidikan pada umumnya/ponpes, adalah sudah dipersiapkan matang jauh-jauh hari siapa generasi penerus sang pengasuh sehingga kontinuitas pendidikan tetap terjaga.
Salam sehat & sukses.
Insya Allah lain waktu kita dapat bersua kembali.
Selamat menyongsong Idul Fitri dengan penuh bahagia.
Afwan wa syukran.
🙏
20 April 2023
_________
3) Opini respons Jamaluddin Abdullah
Syukron ust @Amroeh Adiwijaya atas perhatian dan catatan antum. Mhn maaf baru bisa komen balik.
Berikut tanggapan ana:
1. Sebenarnya ana tdk bermaksud kebarat2an, bahkan dalam pengantar dan penjelasan buku ana lebih banyak merujuk ulama ketimbang ahli lain. Rasanya, satu2nya yg ana rujuk dari luar ulama adalah teori belajar Bloom. Ini pun berangkat dari tahapan belajar Sufyan ibn Uyainah yg ana kutip dari Tafsir at-Qurtubi. Saya melihatnya hampir mirip dalam tahapan belajar.
Artinya tahapan belajar yg disodorkan Ibn Uyainah dikonfirmasi oleh riset terkini tentang pembelajaran. Itu tentu sangat membanggakan. Kita tahu bahwa taksonomi Bloom paling banyak digunakan di seluruh dunia saat ini. Karena memang dianggap paling sesuai dan lbh efektif mengantar kpd kesuksesan dalam belajar.
2. Menghafal memang bukan menjadi penekanan utama dalam metode Bhatatsa (Baca [Hafal] Tadabur Tulis Aksi/Amal). Dalam buku ana jelaskan hal itu. Krn itu pula huruf ‘h’ pd Bhatatsa dicetak miring dan secara khusus diberi tanda kurung.
3. Yang diutamakan sesungguhnya adalah proses memahami dan merancang aksi/amal sebagai tindak lanjut dari pemahaman. Karena inilah ya paling luput salam prose mengaji kita. Sejauh ini penekanan hanya pada tajwid/tahsin dan tahfidz. Pemahaman masih sangat amat kurang ditekankan. Metode Bhatatsa sebaliknya fokus di area ini.
3. Methode ini memang lahir dari kerisauan ana pribadi krn proses mengaji umat pd umumnya yg bagi ana tdk mengatr pd pesan al-Quran. Padahal ini yg paling inti. Lalu Kami mencoba menawarkan solusi. Alhamdulah saat ini sdh ada 3 jilid. Semacam beyond tahsin-tahfidz. 🌞🙏
4. Hal lain yg ingin dicapai secara sistemik dg metode ini adalah melatih kebiasaan membaca, berpikir, berbicara (artikulasi gagasan) dan menulis. Sejauh ini kami melihat ini cukup efektif dalam meletakkan fondasi tradisi literasi pd santri2 Sayang Ibu. Sudah pasti, di atas segalanya, mereka akhirnya mencicipi pesan2 al-Quran yg begitu luar biasa.
Demikian ustadzuna… moga kita bisa bersilaturahmi lagi…
Salam takzim dari Lombok (Pesntren Alam Sayang Ibu)🙏🙏🙏🌞
Komentar
Posting Komentar