🚦RESENSI BUKU ZAHRUL
Latar belakang tulisan:
RESENSI KECIL Buku "Be Adaptive Be Amanah". Otobiografi Zahrul Hadiprabowo, Anggota Alumni Gontor/anggota KAGAMA
“BOHONG”
Oleh: Amroeh Adiwijaya*
Meski tulisan ini sebuah resensi namun harap dimaklumi rada 'ala "kritikus" yang bisa jadi penulis ini cuman bisa ngeritik, tidak bisa membuat buku, hehe....
_____
Buku Zahrul itu pas untuk praktisi telekomunikasi dan peniti penggapai karier, layak sebagai buku motivasi.
Bohong
Salah satu cerita yang diblow-up Zahrul adalah dia ber "bohong" pada Jusuf Kalla, sang big boss, dan Joop Ave yang menteri era orde baru dalam rangka menggoalkan ide, seperti bohongnya sebagian santri Gontor masa Zahrul kepada orang tuanya untuk minta tambahan kiriman wesel.
Apa Zahrul dalam membubak berdirinya BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Syariah juga menggunakan trik itu? Embuh, kwkwk...
Bagi Zahrul, langkahnya itu "halal", tidak kategori lipan melipan, tipu-tipu namun sekedar mengikuti hukum alam yang dibolehkan agama/ushul fiqh, "seni serupa ranting yang boleh beda dari cabang maupun akar". Ya, demi menggapai prestasi, dan itu adalah langkah gambling, untung-untungan meski didahului dengan sebuah analisis study, ditambah ungkapan steel young, "kalau nggak sekarang kapan lagi?".
Langkah-langkahnya pasti dikaitkan sesuai pemahaman keagamaan Zahrul (saat itu) yang didapat dari pesantren pula yaitu "takdir". Meski pasti sempat ketar-ketir namun dengan keyakinan penuh, takdir baik akan berpihak kepadanya.
Keberanian dan berani gambling inilah yang membedakan seseorang dengan yang lain, berani mengadu nasib, tidak berhenti berkiprah apalagi menyerah, layaknya berani fight, berduel, atau di dunia catur "kalau tidak berani menang/kalah tutup papan catur dan tidak usah main", dan Zahrul terkategori fighter itu.
Hanya yang membuat saya penasaran yang tidak ditulis Zahrul adalah bagaima lanjutan kisah dengan boss perusahaan "B" yang kantornya di jalan Kebon Sirih Jakarta yang dengan seenaknya memaksakan kehendak untuk mendapat saham mayoritas itu (halaman 32).
BPR Syariah
Saya kaitkan sedikit dengan kiprah Zahrul di BPR Syariah.
Seingat saya, sewaktu angkatan kami/kita; lulus Gontor tahun 1975 (G'75) pada reuni di Gontor tahun 2015, Zahrul menggelindingkan ide untuk berdirinya Bank (BPR) serupa oleh G'75.
Waktu itu karena dari hasil pengamatan dan banyak sebab saya bilang tidak setuju.
Karena sistem perbankan Indonesia masih seperti ini, BPR Syariah itu nanti tak ubahnya seperti lembaga koperasi, yang amburadul, dan berujung beralih tangan ke "pemodal suku ono" dan menjadi sekedar KSP (Koperasi Simpan Pinjam) dengan jaminan BPKB, tidak jauh beda dengan "Bank Titil".
Meski sempat ada yang menanggapi saya dengan, "biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu" namun saya kok tidak dengar progressnya?
Buku
Zahrul yang oleh Prof Din Syamsuddin (kami bertiga seangkatan lulusan Gontor tahun 1975) mengatakan di buku saya OPERA VAN GONTOR (Gramedia 2010) sebagai lulusan UGM terbaik pada masanya, memang layak membuat buku semacam ini, selain sebagai tulisan sejarah kehidupan pribadi untuk peninggalan kepada anak cucu adalah juga sebagai pengetahuan dan motivasi untuk pembaca.
Dan kita tahu sebaik-baik sejarah peninggalan adalah tulisan/buku.
Akan lebih sip
Buku yang diterbitkan oleh penerbit papan atas dan tercetak rapi ini memang betul kata Zahrul di pendahuluan, "dalam format yang tidak biasa", namun jangan lupa belum tentu yang tidak biasa/out of the box itu baik dan yang baru itu tidak mengganggu.
Maka akan lebih sip dan nyaman bagi pembaca jika buku diformat (sorry usulan saya banyak):
a. Jika di halaman buku ada blok khusus, halaman abu-abu (mbuh istilahnya apa?) untuk sebuah cerita, mengapa ada cerita lain yang tidak dibuat dalam blok?
b. Foto-foto tidak di tengah isi buku namun dimuat pada halaman khusus/belakang (semacam daftar kepustakaan),
c. Judul, dan sub judul ditulis dengan font yang umum, imbang, atau tidak terlalu besar, dan ada pembeda,
d. Dicantumkan daftar riwayat hidup Zahrul,
e. Di Episode awal (tidak di pendahuluan) di mana ada kata GONTOR, bagusnya Zahrul langsung menjelaskan sedikit tentang apa itu Gontor sehingga pembaca awam tidak merasa ujug-ujug dan terbengong disodori kalimat bahwa Zahrul begini-begitu karena didikan Gontor,
f. Dua penyumbang kata pengantar yang ada itu sudah pas, namun karena isi buku banyak bermateri bisnis telekomunikasi dan informasi maka akan lebih menarik jika ada satu atau berapa lagi dari pakar bidang itu. Kalau kepaksa boleh misal, Dirut TVRI sekarang, Imam Brotoseno, meski kata orang dia ex.pentolan majalah *Playboy* edisi Indonesia, huahaha....
g. Terakhir, Judul buku sudah bagus, namun akan lebih joss jika ada sub judul, misal, "Santri Gontor, Bukaka dan Jusuf Kalla". Ingat Zahrul; Gontor, Bukaka dan Juyuf Kalla-nya masih "layak jual".
Penutup
Apapun "resensi" saya ini tidak mengurangi respek saya pada anda, Zahrul, yang telah berhasil membuat buku, sejarah abadi yang tidak semua orang mampu membuat.
Insya Allah bermanfaat, dan khusus dari saya mengucapkan terima kasih atas kiriman buku anda yang majjanan alias free (saya tidak mengisi list di WAG untuk dikirim buku gratis), bebas ongkir pula, hahaha...
Selamat, Zahrul.
Gresik, Minggu malam, 4 April 2021.
-----
* Alumnus KMI Gontor dan FHUI..
-------------------------------------------------------Komentar members WAG :
Banyak dan bermacam-macam
Komentar
Posting Komentar