🚦PRE LAUNCHING "MELIP"
Cover utama
Pre Launching
E-BOOK BLOG Amroeh Adiwijaya berjudul "Melip", Edisi Idul Fitri kedua yang akan dilaunching, setelah Edisi pertama/tahun 2025 terlaunching satu tahun yang lalu.
"MELIP"
Kosakata dari bahasa Jawa yang tervisualisasi pada cover dan judul E-BOOK BLOG di atas, saya arti-arahkan pada filosofi kerohanian sederhana bahwa segala sesuatu yang berjarak dan berdimensi jauh dan silau dari pandangan mata yang seolah tak tersentuh dan tak terjangkau bahkan oleh angan-angan, sejatinya adalah sederhana dan dekat karena berada di diri sendiri, dan mampu diraih melalui kesadaran dan penelaahan nurani.
Sesuatu yang mengajarkan untuk "tidak kaget dan tidak takut", seruan untuk tenang, berani, dan percaya diri menghadapi situasi sulit, ketidakpastian, atau perubahan drastis. Pesan ini menekankan pentingnya mengendalikan rasa cemas—sering dikaitkan dengan iman/perlindungan Tuhan—dan mengubah ketakutan menjadi keberanian untuk bertindak.
-- Allah itu Dekat
Dalam konteks ajaran Islam, Allah itu dekat dengan hamba-Nya bahkan lebih dekat dari urat leher, yang bermakna bahwa Dia Maha Mendengar, Mengabulkan doa, dan mengetahui segala perbuatan bahkan bisikan hati.
Kedekatan ini sayogyanya dapat memberikan ketenangan jiwa dan pertolongan, terutama saat hamba-Nya berdoa dengan sungguh-sungguh.
Allah hadir bukan secara fisik/tempat, melainkan melalui ilmu, kasih sayang, dan rahmat yang tidak ada hijab dengan hamba-Nya.
Allah menjawab keraguan: Saat hamba merasa putus asa atau dalam kesulitan, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, melainkan hamba itu sendiri yang seringkali menjauh.
Sang hamba mampu dekat dengan-Nya dari hasil keimanan, ketaatan, amal saleh, dan kesadaran spiritual yang memberikan ketenangan hati dan jaminan pertolongan.
Dan yang patut selalu diingat adalah sebuah ungkapan bahasa arab, "La takhaf wala tahzan innallaha ma'ana", artinya "Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita", adalah kalimat dari kisah Nabi Muhammad SAW saat ditemani Abu Bakar RA bersembunyi di Gua Tsur (Al-Qur'an, Surat At-Taubah ayat 40).
Ungkapan di atas mengajarkan kepada umat manusia agar tidak takut terhadap masa depan atau sedih atas masa lalu, karena pertolongan dan perlindungan Allah selalu ada, dan merupakan sumber motivasi untuk sabar, realistis, ikhlas namun terus bergerak, dan yakin bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap ujian yang berat.
Lebih lanjut, menenerapkan hal-hal berikut adalah penting:
Dengan menenangkan Hati: Rasa takut adalah hal wajar, namun jangan biarkan ia menguasai atau menghambat.
Mengandalkan Kekuatan diri dan Tuhan: Percaya bahwa kita mampu mengatasi masalah atau meyakini ada kekuatan yang lebih besar (Tuhan) yang melindungi dan memegang kendali.
Berani menghadapi masa depan: Menjadikan tantangan sebagai kesempatan dan tidak takut gagal.
Mengelola stres: Jika rasa takut dan kaget berlebihan, bisa menjadi gejala kecemasan atau post-traumatic stress disorder (PTSD), maka butuh penanganan untuk meredakan.
Mengubah perspektif menjadi optimistis dapat menggantikan ketakutan dengan keberanian, membuat diri siap menghadapi apa pun yang terjadi.
Akhir kata saya mengucapkan selamat menerawang segala sesuatu tidak selalu dengan kacamata "melip". Salam sehat dan selamat berpuasa.
Dan pada hari raya Idul Fitri mendatang selamat membaca E-book Blog "Melip".
Terima kasih.
Gresik,
Jum'at, 20 Februari 2026
(hari ketiga berpuasa Ramadhan)
amroehadiwijaya@gmail.com
Komentar
Posting Komentar