🚦IN MEMORIAM MA'MUN HF
IN MEMORIAM MA'MUN HF
Tahun 1969 kami satu kelas I.E KMI, Kulliyatul Muallimin Al-Islamiyah, (setingkat SMP-SMA) dengan ruang kelas di gedung Indonesia II tepat "tusuk sate" menghadap jalan ke arah BPPM (Balai Pertemuan Pondok Modern) Darussalam Gontor.
Saya masih terbayang ketika si-empunya postur tinggi ganteng kuning itu diminta ustadz Abdullah Rofi'i, wali kelas, untuk maju ke depan kelas melafalkan tugas hafalan bahasa Arab di mana dia membawakan dengan fasih.
Selain karena berpostur jangkung dan terpaut usia tiga(?) tahun lebih senior dari saya, kami terpisah kamar tapi masih satu gedung, Gedung Baru depan BPPM. Ma'mun di rayon Kibar sedangkan saya yang berkategori fisik "mini" di rayon Sighor.
Tahun 1975 karena sama-sama tamat KMI, saya berpisah dengan shahib yang ramah dan nampak selalu serius itu, dan tahun 2000 waktu ibadah Haji, ketika saya dan istri melintas pulang dari menunaikan salat Isya di Masjidil Haram menuju pondokan, saya melihat Ma'mun berada di lobby sebuag hotel yang kami lewati.
Saya pun menuju untuk menemui tapi Ma'mun sudah tidak ada, dan jama'ah asal Indonesia yang saya tanya pun tidak mengenal.
Sekitar 5 tahun yang lalu, peristiwa itu saya bahas di WAG ini dan Ma'mun merespon, "tahun itu saya tidak berhaji, akhy!", yang saya jawab, "berarti itu karena saking 'sufistik' nya ente sehingga penampakan ente ada di mana-mana", yang dikomen, "hehe....".
Ketemu tatap muka terakhir dengan Ma'mun saat reuni G'75 di Gontor tahun 2015 bertepatan dengan walimahan putra sahabat kita Almarhum Imam Budiono Sahal.
Di reuni itu pula adalah perjumpaan terakhir saya dengan almarhum-in: Ustadz Abdullah Rofi'i (wali kelas di atas), Imam Budiono Sahal, Zainuri Harib, dan almarhum Ya'cub Buchori.
Beberapa hari setelah reuni, Ya'cub menulis di WAG ini, intinya, "Syukran kepada Ma'mun yang sudah memberi ana hadiah HP baru saat di Ponorogo, mudah-mudahan ana makin giat berkabar di WAG, hahaha...".
Komunikasi terakhir saya dengan Ma'mun sekitar 4 tahun yang lalu via japri, yang meminta saya untuk mengedit tulisan tausiyah rutin hariannya.
Saya mampu membantu hanya untuk dua tulisan, lagi pula menurut saya, mengedit tulisan orang lain itu lebih sulit dibanding dengan menulis sendiri, maka saya katakan, "Afwan akhy, untuk selanjutnya saya tidak bersedia karena kesibukan, toh tulisan antum sebenarnya sudah layak untuk dipublish tanpa ada editing dari saya".
Meskipun akhir-akhir ini saya jarang involf, tapi Alhamdulillah saya bisa terus mengikuti info-info dari WAG ini termasuk info sakit hingga wafat Ma'mun yang mengagetkan kita semua itu.
Selamat jalan ke alam keabadian, akhy yang baik, dan yang pasti saya pun akan menyusulmu, kelak.
Saya pun berdoa segala kebaikan untukmu dan keluarga yang engkau tinggalkan.
-------------------------------------------------------
Komentar members WAG :
Banyak dan bermacam-macam, antara lain:
1. Dari sang putra (7 September 2024 Pukul 19:00):
Maa syaa Allah terimakasih untuk untaian kenangan bersama papa , terima kasih untuk doa doa dan mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar besarnya jika papa saya pernah salah ataupun khilaf
Pukul 20.51 saya (Amroeh) menjawab: Terima kasih kembali, anakda.
Sekali lagi, beliau adalah sosok yang baik, dan bersyukurlah memiliki Papa yang demikian.
Yang saya berharap dari putra/putri-generasi penerus beliau adalah:
o Menerbitkan tulisan-tulisan beliau yang merupakan peninggalan sejarah abadi itu.
o Ponpes-nya semakin maju.
.2. Dari Saifuddin Jogyakarta, pukul: 21.08: Tinggalan alm akh KH M MA'MUN
o Amal Jariyah (pondok pesantren)
o Ilmu yg bermanfaat dunia ahirat.
o Putra putri sholih sholihat yg selalu mendoakan beliau alm
Semoga kita kelak dipertemukan di Jannah an Na'iim, Aamiin
Komentar
Posting Komentar