📍ASAL USUL SEBUTAN "DUKUN" GRESIK
INILAH ASAL USUL SEBUTAN "DUKUN" GRESIK JAWA TIMUR
Oleh: Amroeh Adiwijaya
Tulisan budaya lokal Dukun, dengan poin-poin pula, hehehe....:
1. Dukun Apa?
Tanggal 20 Oktober 1997 (27 tahun silam), setelah beberapa kali sebelumnya saya berkunjung ke kantor dan pabrik kulit di Jakarta milik Soerjadi Kartarahardja, dia dan seorang staf yang biasa dipanggil Ahok, keduanya keturunan Tionghoa - kini keduanya sudah meninggal dunia, berkunjung ke gudang kulit saya di Dukun Gresik.
Sesampai di bandara Juanda Surabaya, dengan mobil rental langsung menuju Dukun, namun kebablasan sampai daerah kecamatan Panceng atau sekitar 20 kilometer dari Dukun, masih satu kabupaten, Gresik.
Karena merasa lama tidak nyampai tujuan, dia pun bertanya kepada seorang bapak yang dijumpai, "Dukun itu mana?", yang dijawab, "bapak mau nyari Dukun apa?".
Cerita itu diungkapkan kepada saya yang tentu membuat saya dan ayah saya, H.Rifai Malik (almarhum 2010) yang kebetulan berada di ruang tamu juga kedua tamu itu tertawa sumringah pengobat panasnya cuaca siang.
Jawaban bapak di atas bisa ditebak bahwa di daerah sekitar Panceng banyak macam-macam dukun, dan tamu saya pun pasti sebelumnya berasosiasi sebagaimana anggapan banyak orang bahwa warga daerah Dukun banyak yang berprofesi sebagai Dukun. Benarkah?
Ternyata benar, dulu kala, karena terbukti setelah ditemukan banyak artefak berupa barang-barang kuno antik plus dari mimpi siang bolong kemudian dianalisis secara arkeologis, maka disimpulkan dengan "imaginer" tipis-tipis dan disimpulkan mencengangkan, berikut.
2. Asal "Dukun"
Sebelum ada istilah atau sebutan desa, kecamatan, karesidenan, kabupaten dan seterusnya, sekitar tahun 1500 sampai 1700 Masehi (tiga abad), sekarang di pusat wilayah ibukota kecamatan Dukun, tepatnya sekitar pasar Dukun atau selatan tempat kelahiran Mbah KH.Abdul Djabbar Maskumambang (IKKAD) atau timur tempat kelahiran Mbah Kaltum (IKB.KALTUM), ada seorang demang, orang yang disegani, ketokohannya mumpuni.
Karena masa itu belum ada dokter, mantri juga bidan dan sebagainya, dan karena dia memiliki ajian mandra guna, bukan Mandra yang disebut banyak orang sebagai orang terjelek nomor dua di Indonesia (sekedar bercanda, tidak menyekutukan Allah!) yang bisa memberi solusi pengobatan dan sebagainya pada setiap problem masyarakat, dia yang sakti itu dijuluki "Ki".
Sebutan Ki sendiri bermetamorfosis sebutan untuk seorang dalang pewayangan, kemudian menjadi "Kyai" untuk tokoh agama Islam. Hanya kebangetan kalau Kyai digunakan sebutan untuk sapi yang dimunculkan setahun sekali saat acara sekatenan satu Suro.
Ki mumpuni itu berkulit hitam namun tidak sepekat orang negro, berpostur tinggi besar, berhidung pesek, selalu bercelana pendek komprang hitam-agar tidak mbloder diikat dengan pelepah pisang, tanpa baju.
Juga pakai udeng-udeng tutup kepala yang semula berwarna putih tapi lapuk menjadi hitam karena kain susah didapat, gondrong tapi tidak disemir warna cokelat dengan daun kayu jati karena pohon jati adanya jauh cuman (sekarang) di hutan jati Panceng, berkumis tebal, ngudut atau merokok kemenyan dilinting daun pisang kering atau klaras atau daun jagung, dan kemana-mana membawa keris ajian dan senjata pamungkas.
Dia bernama Wojo Branjangan (untuk memudahkan kita sebut WB), istrinya banyak tak terhitung yang didapat dari banyak wilayah, anaknya pun telecekan di mana-mana.
3. Macam-macam Dukun
Ki WB lumayan terbuka untuk membagi kemampuan, dan mungkin karena pasiennya banyak sehingga perlu tenaga bantuan maka dia memiliki banyak asisten yang masa itu disebut "cantrik".
Dalam perkembangan, cantrik digunakan sebutan untuk murid yang meguru pada seorang Kyai; "santri".
Kalau "carik" beda lagi, era sudah maju dulu adalah sebutan untuk sekretaris desa, juga pelayan "calak" tukang potong anunya kaum batangan.
Di antara para cantrik itu berasal dari wilayah yang jauh. Dan setelah merasa berhasil menimba pengetahuan ditambah "topo" dan sebagainya mereka kembali ke daerah asal masing-masing dengan membuka praktik sendiri.
Mereka cerdik. Agar tidak berebut pasien atau istilah sekarang, "sesama angkot dilarang saling mendahului", mereka sudah mampu menerapkan metode "spesialisasi" seperti era kini sehingga masa itu muncul banyak spesialis perdukunan, namun tidak lagi menyebut diri sebagai cantrik melainkan Ki, seperti pada:
- Dukun jampi, kira-kira sekarang di dusun Omah sawah, Dukun
- Dukun japa, kira-kira sekarang di desa Semlaran Lamongan, dekat Dukun
- Dukun klenik, kira-kira sekarang di desa Cirit (nama baru? Mbuh), dekat Dukun
- Dukun santet dan tenung kira-kira sekarang di daerah Lowayu, dekat Dukun
- Dukun susuk, kira-kira sekarang di desa Surowiti, dekat Dukun
- Dukun pesugihan dan prewangan, kira-kira sekarang di dusun Semelik, dekat Dukun
- Dukun tabib (pengobatan), kira-kira sekarang di pusat kota kecamatan Dukun.
Kalau dukun beranak yang asal gurunya adalah Nyonya WB, bergenerasi kira-kira sekarang di dusun Siraman, Dukun, asal kelahiran PG yang sekarang ditahan Bareskrim Polri di Jakarta.
Adapun saat akhir abad ke 17 memasuki abad ke 18, meski Dukun masih digunakan orang sebagai nama wilayah, namun situasi kebudayaan masyarakatnya mulai berubah menjadi agamis (Islam), ajaran yang bermula dibawa oleh beberapa pendatang dari luar daerah.
Itulah nama Dukun yang juga terdapat di kota Mungkid yang berjarak sekitar 21 Km dari ibu kota Kabupaten Magelang Jawa Tengah, yang sangat mungkin punya riwayat seperti Dukun di Gresik.
3. Lalu?...
Dengan catatan ini maka tidak perlu heran kalau wilayah Dukun diasosiasikan banyak orang sebagai banyak dukun klenik seperti "true story" di atas.
Dan di era "generasi Z" sekarang, apakah Dukun yang masyarakatnya berjuluk kaum santri itu perdukunan berkedok cem-macem merebak lagi? Meski ibukota Dukun sekarang sudah dibangun jembatan penyeberangan (2000) dan sudah menyerupai "Menteng" nya Jakarta? Mugo-mugo nggak-lah yauww!
Selamat untuk dulur-dulur yang libur Minggu, salam sehat bahagia.
--------
Gresik, Minggu 6 Agustus 2023.
Menulis santai 20 menit mumpung ada mood setelah nyantap kue kelepon plus ngopi pasca muput menyelesaikan tulisan sebuah buku.
--------
amroehadiwijaya@gmail.com
Komentar
Posting Komentar