🚦1 ABAD GONTOR: REUNI ABU SITTIN, LOMBOK 2023

Latar belakang tulisan:

Opini setelah mengikuti acara reuni ABU SITTIN Gontor di Lombok.

Final Note Amroeh Adiwijaya (*)

 

"REUNI ABU SITTIN LOMBOK 2022"


BAGIAN 1

Senior famili dekat sedesa dengan saya di Gresik, mas/cak Ghozi Ahwan, almarhum, adalah figur istimewa bagi saya.

Selain mengantar awal saya ke Gontor bersama Najib Ahwan sang adik (almarhum) untuk nyantri (1969), beliau juga memperkenalkan kepada saya bahwa setelah masa sekolah/nyantri di Gontor ada masa lanjutan yaitu reunian, dan jalur yang diarahkan kepada saya adalah reuni Abu Sittin, sebuah nama bagi lulusan KMI Gontor tahun '60-an, bukan yang berusia 60 tahunan.

Karena sebenarnya saya 

dan angkatan lain sesudah saya yang mengikuti acara Abu Sittin tidak termasuk pada komunitas itu maka saya yang lulus KMI tahun 1975 (G'75) menjuluki diri sendiri dengan Abu Sittin KW atau odong-odong alias bukan asli tulen. 

Atas ajakan cak Ghozi yang alumni asli Gontor Abu Sittin saya sempat mengikuti 3 kali reuni Abu Sittin,

1.    Batu Malang Jawa timur, 5-7 Juli 2002

2.    Sumenep Madura, 2-4 April 2010

3.    Cirebon Jawa barat, 22-23 Maret 2012.

Dan ke 4 kali di Lombok tanggal  4, 5 dan 6 Mei 2022 yang baru lalu yang ditahbiskan oleh KH.Amal Fathulloh Zarkasyi, ustadz awal saya di Gontor dalam sambutan beliau dan banyak alumni lain sebagai reuni Abu Sittin tersukses itu, adalah berkat ajakan sekaligus sponsorship dari cak Ali Hakim Ahwan, adik cak Ghozi, Abu Sittin asli kepada saya.

Terima kasih dan barakallah untuk cak Ali Hakim.

BAGIAN 2

Yang jadi pertanyaan mengapa reuni oleh IKPM Wilayah/cabang dan Angkatan, termasuk angkatan saya G'75 dinilai banyak khirrij kurang greget, dan reunian menjadi "wah" dan meriah jika oleh Abu Sittin? 

Abu Sittin, organisasi reunian tertua alumni Gontor yang nampak wah itu, adalah sebuah organisasi mandiri independen sederhana yang tidak berhubungan resmi dengan pondok modern Gontor, dan menurut saya perlu segera memiliki kelengkapan organisasi misal AD-ART.

Karena ketiadaan itu maka tak heran, dimana kebetulan saya mengikuti secara langsung ada silang pendapat antar sesama "pendiri" Abu Sittin.

Di forum resmi penutupan reuni 5 Mei 2022 di area terbuka tepi laut hotel Holiday Inn sekitar pukul 21 WITA yang dihadiri lengkap oleh 3 pimpinan/kyai Gontor (duduk di panggung) dan Bupati Lombok Barat itu, seorang pendiri sekaligus ketua(?) Abu Sittin bernama Zainuddin AS (Lumajang/Bojonegoro?) akan meresmikan 9 pengurus baru yang terdiri dari sebagian kecil lulusan tahun '60 dan selebihnya dari lulusan '75, '77 dan lain-lain, juga akan meresmikan bahwa Abu Sittin tidak sekedar bermakna/berkiprah sesuai  angkatan kelulusan Gontor tahun '60-an namun diperluas menjadi alumni yang telah berusia 60 tahunan.

Tak terduga sesama pendiri bernama KH.Kholil Ridwan Jakarta, da'i dan sesepuh DDII Pusat menyampaikan protes di forum.

Dia protes mengapa dia sebagai salah satu pendiri Abu Sittin tidak dilibatkan dalam proses-proses kepanitiaan reuni, dan lain-lain misal mengkritik mengapa peserta reuni cuman sedikit yang mengikuti jemaah shalat subuh? Sebuah protes yang bisa jadi dinilai wajar dari orang yang merasa memiliki nama besar namun diabaikan oleh sesama/sejawatnya, namun saya menilai itu adalah sifat asli KH.Kholil yang maunya selalu dilayani, di "kulo nuwuni" karena saya pernah dua kali memenuhi permintaannya menjapri dua nomor telepon yang dia minta namun sesudahnya tak ada jawaban apapun darinya, apalagi berterima kasih.

Atau bisa jadi wajar karena pimpinan Abu Sittin memang otoriter atau terlalu sibuk sehingga acuh pada sejawat sesama pengurus. Namun saya yakin yang pasti karena - setelah ditinggal wafat oleh banyak pengurusnya, adalah karena tidak ada aturan yang jelas pada organisasi Abu Sittin.

Maka juru damai dari forum pun ramai bermunculan 

Demi Marwah kyai Gontor, di antara yang hadir ada yang ngedumel dan berargumen mengapa saat itu KH.Hasan Abdullah Sahal turun tangan menyumbang usulan perdamaian, padahal bukan urusan/masalah pondok? Kan internal pengurus sesama angkatan Abu Sittin harusnya dapat memecahkan sendiri? Namun ditepis dengan argumen lain yang juga kedumelan, "ingat, beliau juga anggota Abu Sittin tulen looo!".

Yang lucu, ada salah satu calon anggota pengurus bernama MA.Ritho Lidinillah, G'75 (Abu Sittin KW) yang seolah kebelet agar namanya segera diresmikan, bersuara singkat menantang KH.Kholil Ridwan, "sekarang apa mau antum?".

Turun meramaikan juga Din Syamsuddin (G'75) Abu Sittin KW yang bernada mengharap KH.Kholil Ridwan ikut merestui 9 calon pengurus tersebut.

Baru setelah Din, muncul satu juru damai lagi entah siapa(?), berhasil membuat suasana mencair, dan kubu Zainuddin AS dan KH.Kholil Ridwan nampak berjabatan tangan berdamai, dan pro-kontra pun berhenti.

Dan berlanjut damai sewaktu ketua pengurus baru Abu Sittin, Prof Ali Mufrodi, Surabaya (Abu Sittin asli) bertanya kepada Prof Aflatun Muchtar, Palembang, Abu Sittin asli, "apakah Palembang bersedia menjadi tuan rumah reuni tahun depan (2023)?", yang dijawab singkat, "bersedia".

Disambung sebuah tanggapan oleh seorang pengurus baru Faiq Hafidh, Semarang, G'77, Abu Sittin KW, "untuk ke acara Palembang nanti saya menjamin transportasi untuk 25 orang pendiri(?) dari uang saya pribadi", suatu sikap kedermawanan yang harusnya ada di setiap organisasi sehingga membuat majunya sebuah organisasi sosial.

BAGIAN 3

Tentang munculnya dua gubernur pada reuni Abu Sittin, saya menilai sebagai bentuk gesitnya Panpel dalam berkomunikasi dengan pejabat. Salut!

Kalau Gubernur NTB Zulkifliemansyah muncul dua kali secara riel fisik yang saya yakin muncul pula sumbangan finansial untuk Panpel, lalu bagaimana dengan Anies Baswedan gubernur DKI Jakarta? 

Meski hanya dalam bentuk virtual/video mengucapkan selamat bereuni, namun harusnya Anies muncul pula donasi financialnya untuk Panpel, sehingga event reuni sakral Abu Sittin ini tidak disusupi isu politik praktis/kampanye oleh siapapun secara gratis.

BAGIAN 4 

Tulisan ini harusnya tidak perlu panjang seperti ini karena sejatinya sekedar mengingatkan kepada kita semua bahwa dalam berorganisasi apapun, besar maupun kecil, harusnya menerapkan aturan tertulis/SOP/AD-ART, sesuatu yang sejatinya telah dididik oleh pak kyai (KH.Imam Zarkasyi) kepada kita sejak di KMI, sehingga tak terjadi letupan sekecil apapun di ruang publik seperti di atas.

Intinya apa? Masing-masing anggota membiasakan untuk mencatat dan mengarsip, dan masing-masing melaksanakan tugas dengan semestinya, kemudian mempertebal dengan saling "khusnuddzon". 

Kaitan dengan di atas, sebagai kepanitiaan Abu Sittin Lombok yang mencerminkan "wah" nya Abu Sittin, sampai saat ini saya bertanya-tanya mengapa belum menemukan susunan lengkap panitia pelaksana pusat maupun lokal yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik, sebuah dokumentasi yang patut dipublikasi dan diarsip dengan semestinya? Maka seandainya sudah tersedia namun belum dipublikasikan, maka akan Afdhal kalau dipublish, mumpung masih ada waktu. 

Catatan:

Terima kasih juga untuk yunior saya, Muhibby Muchlas, keponakan cak Ali, G'78(?) Abu Sittin KW, peserta reuni yang dengan tulus membantu saya saat kepayahan selama pergi-pulang Gresik-Lombok.

Salam sehat dan sukses untuk kita semua.

Gresik, kamis, 28 Juli 2022.

Mumpung mulai sehat dan mau menulis (Alhamdulillah). 

(*)

Peserta reuni Abu Sittin Lombok 2022.

Penulis novel OPERA VAN GONTOR (Gramedia 2010).

 -------------------

Keterangan foto (di Facebook):

1.    Buku yang dibagikan kepada peserta reuni.

2.    Saya/penulis bersama Gubernur NTB, Zulkifliemansyah.

3.    Saya di area bagian dalam stadion moto GP Mandalika Lombok

4.    Bersama sahabat Bahruddin/BAHRUDDIN/BAHRUMTAKKOMAKASAU Enrekang Sulawesi, di parkiran mall souvenir Lombok.

-------------------------------------------------------


Komentar

Postingan populer dari blog ini

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA

🔵 SOFIAN EFFENDI

KOPERASI IKKAD (SEJARAH PEMBENTUKAN)