🚦1 ABAD GONTOR: KOK LAMA TIDAK KE GONTOR?
“KOK LAMA
TIDAK KE GONTOR?”
Pengantar:
Meski di novel saya OPERA VAN GONTOR (Gramedia 2010) - tahun 2011 bedah buku di GOR Gontor - pasti ada yang menilai saya di Gontor terkategori "mbetik"/sirrir", namun saya tidak terpengaruh dan lanjut menulis berikut ini.
----
Antum ke Gontor, akhy Bisri? Wuih pasti menyenangkan sekali.
Selamat menikmati dan meresapi trip & mission antum.
Saya sendiri, setelah wafat dua kyai besar Gontor - almaghfurlahuma pak Sahal dan pak Zar - hampir tidak pernah ke Gontor. Terakhir saat reuni G'75 (2015). Setelah itu saya belum tertarik lagi ke sana.
Saya merasa tenteram di hati dengan meresapi sikon, kenangan dan pengalaman "indah" selama meniti kehidupan di Gontor, cukup dari jauh.
Indah? Haqiqatan/betul demikian, sehingga di hati saya tidak ada figur dua kyai besar - almaghfurlahuma pak Sahal dan pak Zar - yang menggantikan, hingga kini, dan saya tidak tertarik dan tidak rela jika ada ada hal-hal baru atau yang beda yang mengaburkan memori lama nan indah itu.
Perkataan dan gerak langkah ('ala hadits) beliau berdua - bahkan keluarga beliau berdua-lah yang membentuk jiwa saya.
Dalam hal apa saja? Antara lain dalam memahami iman dan islam, bermua'amalah dengan sesama muslim/non muslim, berdisiplin, berbusana (juga untuk perempuan-tdk ada mode jilbab apalagi burqah), beretiket, bertulis-menulis dan mengarsip, beristilah (pemakaian kata sembahyang, karma pun, ok!), beliau berdua always stay at ma'had, dan lain-lain, dan yang penting adalah dalam berpolitik - Gontor tidak berpolitik praktis.
Memori yang tak terlupakan dan mengendap ke relung hati sampai ahkhir hayat itu masa saya usia belasan, sinkron dengan tulisan KH.HASYIM MUZADI pada buku saya di atas, "usia paling tepat untuk menamkan nilai-nilai dan semua hal".
Pasti ada yang bertanya, "apa era pasca beliau berdua Gontor berubah?" Itulah, dan na'am ....
Gresik, 10 Desember 2020
Amroeh Adiwijaya
(di Gontor pernah disebut Amrullah Rifai)
Komentar
Posting Komentar