🚦1 ABAD GONTOR: BEGINILAH GONTOR


Latar belakang tulisan:
Merespon kiriman japri video dari  teman non alumni Gontor


“BEGINILAH GONTOR”

Saya mendapatkan video tersebut dari seorang sahabat sesama alumni FHUI, muslim taat yang nasionalis, tokoh FA.GMNI Pusat, dan mantan Presiden Direktur sebuah perusahaan penerbangan nasional.

Dia memberi komen khas sesama Jawa timur:
Mru, Iki Pondok Gontor kok dadi koyok ngene yo …:
"Pondok Gontor kok jadi kayak begini, ya".
(Mru: Biasa dia menyingkat nama saya)

Sebagai alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor (disingkat: Gontor) yang selalu mencintai almamaternya,  sebaiknya saya

memberi tanggapan terhadap "statemen" dia di atas.
Agar mudah dipahami, karena panjang, maka saya tulis dalam poin-poin:

Pertama

Keyakinan saya, video itu cuplikan pentas kesenian rutin awal tahun ajaran (Khuthbatul 'Arsy), bulan Syawwal tahun Hijriyyah oleh santri/siswa Gontor (selanjutnya saya tulis anak Gontor) setingkat kelas dua MA/SMA.

Bagi mereka seusia belia, 17 tahunan, pentas semacam itu sangat menarik dan ditunggu-tunggu oleh seluruh penghuni kampus Gontor, sejak dulu.

Itu acara internal Gontor, bukan untuk umum, tapi kalau dishare (di ujung atas ada gontor tv), memang-mau tidak mau jadi konsumsi umum.

Pada puisi yang disampaikan diberi nama Republik Kebingungan, berarti namanya Republik Kebingungan, bukan Republik Indonesia.

Republik kebingungan adalah republik imajinasi sang penulis naskah.

Kedua

Pandangan dari beberapa sisi.

A. Sisi Panca Jiwa Gontor:

1. Keikhlasan,

2. Kesederhanaan,

3. Berdikari,

4. Ukhuwah, dan

5. Kebebasan.


Panca jiwa yang kelima ini yang memungkinkan anak-anak Gontor bebas berpendapat, bebas berekspresi dan mengeluarkan ide di panggung kesenian atau mimbar latihan pidato (muhadloroh) dalam tiga bahasa, Indonesia, Arab dan Inggris.

B. Sisi Pendidikan: Anak-anak Gontor sudah memasuki dunia global. Informasi sulit dibendung, pelajaran seperti "qulil haqqa walau kana murran" (katakan yang benar meskipun pahit), ketika dihadapkan pada realita epoleksosbud, maka dengan kesederhanaan pengetahuan yang diperoleh berakibat pada aksi emosional yang pragmatis.

Dari sini, kalangan umum harus memahami bahwa anak anak itu sedang berproses untuk mencari jati diri, dan anak Gontor sebenarnya dari dulu sok sokan (istilah mereka: yahanu) menjadi politisi, misal era saya di sana sering mengkritik kebijakan orde Baru.

Bedanya dulu  pemerintah sangat represif sebaliknya saat ini kebijakan politik sangat liberal, rakyat bebas berpendapat terutama dengan adanya media sosial.

C. Sisi pimpinan:
Para pimpinan Gontor dan yayasan Badan Wakaf-nya (lembaga tertinggi Gontor) saat ini memang berbeda dengan saat Tri Murti, tiga serangkai bersaudara kandung, pimpinan/kyai generasi pertama masih memimpin Gontor.

Beliau-beliau (untuk memudahkan: mereka) di mana kami dididik secara egaliter-yang berefek jauh-cukup menyebut "pak", KH.A.Sahal (Pak Sahal), KH.Zainuddin Fananie (Pak Fanani) dan KH.Imam Zarkasyi (Pak Zar) adalah figur-figur pesantren murni, pengabdian mereka hanya pada pendidikan Gontor.

Mereka tidak pernah berbicara soal politik kekuasaan, sehingga sunnah pondok pesantren dijunjung tinggi.

Jujur saya menilai, mereka dalam menyiapkan generasi penerus yang berhati, hasilnya justeru "berpikiran Barat" di mana kini nuansa "perpolitikan" memang nyata adanya.

Konklusi khusus poin ini adalah: a.Sangat wajar anak-anak Gontor itu berekspresi sebagai media pendidikan berdemokrasi melalui panggung kesenian.
Mereka sedang belajar menuangkan ide-ide kebebasan berpendapat.

Ini juga dampak dari gelombang besar dunia informasi yang sulit dibendung.

b. Selama atraksi kesenian ini dikatagorikan sebagai  pendidikan  maka seharusnya selektif untuk disebarkan melalui medsos.
Biarkan kritik sosial politik itu untuk konsumsi internal  kalangan santri sendiri, bukan untuk kalangan masyarakat umum.

Ketiga

Sekali lagi, hal seperti ini adalah biasa.

Dulu semasa saya di Gontor juga sering mengeritik Orde Baru di beberapa kesempatan misal dalam latihan berpidato di atas.

Bedanya dengan sekarang hanya soal siapa yang sedang memerintah.

Saat mereka terjun ke masyarakat kelak, belum tentu anak-anak dalam video tersebut masih akan berpikiran sama, karena seiring waktu, pengalaman hidup dan bertambahnya pengetahuan plus wawasan, seseorang bisa berubah.

Anak-anak Gontor boleh dikata tidak mengikuti dinamika politik di luar Gontor secara riel kecuali dari surat kabar dan radio tertentu sehingga isinya pun sangat standar dengan mereka yang memang berseberangan dengan pemerintah saat ini. Itu pun sah.

Pada saatnya mereka pun akan tahu bahwa politik itu memihak.
Jadi memang benar-benar biasa saja.

Penutup

Video pentas di atas adalah kreativitas anak-anak, apa nggak boleh?

Sekali lagi, judulnya adalah republik kebingungan, bukan Indonesia.

Mungkin sang penulis naskah terinspirasi cerpennya Ki Pandji Kusmin "Langit Makin Mendung", cerpen kritik sosial yang membuat HB Jassin jadi terpidana karena tak mau memberitahu penulis sebenarnya.

Atau mungkin juga terinspirasi dari novel "Opera Van Gontor" karya ketua umum Senat Mahasiswa FHUI? Why not?!
Hahaha...

Maka kesimpulan tanggapan yang pas untuk sahabat saya di atas adalah: Dari dulu Gontor memang begini....bukan kok jadi begini...".

Gresik,

Jumat, 20 Agustus 2021 after subuhan,

amroehadiwijaya@gmail.com
Alumni Gontor dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).


-------------------------------------------------------Komentar members WAG :
Banyak dan bermacam-macam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

E-BOOK BLOG AMROEH ADIWIJAYA

🔵 SOFIAN EFFENDI

KOPERASI IKKAD (SEJARAH PEMBENTUKAN)