🔵 IN MEMORIAM PROF DR KH AMAL FATHULLAH ZARKASYI, MA
IN MEMORIAM
UNTUK GURU GONTOR-KU ALMUKARRAM DAN TERKASIH
PROF DR KH AMAL FATHULLAH ZARKASYI, MA
Oleh: Amroeh Adiwijaya
Sedih rasa hati ketika beberapa waktu sebelum berita beliau wafat itu tersiar saya telah mendapat berita bahwa beliau menderita sakit dan diopname di RS Madiun dan Solo, dan berita wafat beliau kemarin sungguh menyentak hati bagai gelegar petir di siang bolong sekaligus menambah kesedihan dan membuat duka. Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un.
Dan karena "In Memoriam" tidak ada aturan harus ilmiah dan serius, maka harap maklum kalau tulisan ini bernada keseharian, yang saya percaya beliau-almarhum pun ikut menerawang dengan santai.
Riil Guru
Beliau adalah riil-nyata, offline-tidak online guru saya setamat SD, awal masuk Pondok pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo (disebut: Gontor) tahun 1970, pengajar bahasa Inggris kepada kami, kelas 1 dan 3 KMI setingkat MTs/SMP, juga di kelas 5 (2 MA/SMA).
Masa itu pengasuh/kyai Gontor adalah tiga serangkai bersaudara, pendiri Gontor, yang di sana disebut TRIMURTI generasi pertama, yaitu:
1. KH Ahmad Sahal
2. KH Zainuddin Fanany (almarhum), dan
3. KH Imam Zarkasyi (ayahanda almarhum).
Dan saya jadi tahu, kebahagiaan sejati seorang guru adalah ketika sang murid berhasil: Saya dapat mengenang indah ketika raut wajah beliau sebagai guru bahasa Inggris di kelas 3 berbinar bahagia sewaktu saya, sang murid berhasil menghafal di depan kelas, satu bab di buku pelajaran wajib, BERLITZ, berjudul "Taxi-taxi", sesuatu yang pasti bagi beliau mirip lagu lawas top Louis Armstrong berjudul "What a Wonderful World", keajaiban dunia, karena selama itu saya nol putul di pelajaran bahasa Inggris.
Hanya, berapa banyak yang saya hafal? Tak lebih dari 10 baris, wkwkwk...
Lalu sewaktu di kelas 5, karena masih rodok "mbetik" di bahasa Inggris, saya sering bolos masuk kelas dengan alasan macam-macam, tapi di satu hari kamis ada kejadian spektakuler.
Beliau (biasa kami menyebut: Ustadz Amal) murka dengan sering bolosnya saya itu, kemudian menyuruh ketua kelas untuk menjemput saya dari kamar asrama agar masuk kelas saat itu juga. Dengan terpaksa saya pun masuk yang tentu dengan style seolah sakit beneran. "Nah loo", celetuk kawan-kawan, hihihi....
Duutt
Beliau sering menyapa saya dengan nada riang, "duut" yang mungkin orang lain mengartikan karena saya gendut.
Betul, saat itu postur saya gendut impul-impul tapi sebenarnya ada cerita spesifik berikut: Suatu siang sepulang dari tempat makan menuju asrama, di jalan, saya berpapasan/simpangan dengan beliau dan dua ustadz lain. Ndilalah, tidak sengaja dan tidak terbendung dari perut saya buang angin "tornado" keras yang membuat beliau-beliau mendengar dan nyeletuk sambil tertawa, "lah, kok nge-duutt...?". Saya pun lari terbirit-birit menuju kamar, ampuuun ...
Menjadi famili
Karena beliau menikah dengan famili dekat saya asal Gresik, maka kami sering bertemu ketika beliau berkunjung ke rumah mertua.
Pertemuan terakhir sewaktu kami sama-sama menghadiri acara Halal bihalal keluarga besar (bernama/disingkat: IKKAD) di pondok pesantren ATTANWIR, Talun Bojonegoro, 6 April 2025 yang lalu.
Berpulang
Begitulah perjalanan waktu yang terasa singkat, di mana dalam rangka untuk menghadiri pernikahan beliau, saya mengalami kejadian merinding menjelang subuh menyetir mobil sendirian dari Gresik ke Gontor, saya kesasar/tersesat jauh ke jalan sempit berbatu, hutan pohon kayu putih(?) antara kota Ponorogo-Gontor, dan untuk jalan balik memutar harus dibantu oleh bapak-ibu tua suami-isteri satu-satunya rumah di daerah itu. Kejadian mencekam itu terasa baru kemarin, dan kini beliau telah dipanggil oleh sang khalik, berpulang ke rahmatullah.
Beliau berpulang saat mengemban amanah sebagai salah satu dari tiga kyai pengasuh Gontor, TRIMURTI V (kelima), selengkapnya:
1. KH.Hasan Abdullah Sahal
2. Prof.Dr.KH.Amal Fathullah Zarkasyi, MA
3. KH.Akrim Mariyat, MA.
Dan tak ketinggalan, pada masa-masa sebelumnya, dengan menempuh jalur lembaga pemerintah, beliau bersama tokoh pondok pesantren yang lain telah pula berjuang untuk kemaslahatan dan kemajuan pesantren di Indonesia pada umumnya.
Selamat jalan menghadap Rab-mu bersama doa tulusku wahai Guruku yang terhormat dan terkasih. Pada saatnya saya pun akan menyusulmu.
Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un, sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali.
Gresik, Minggu, 4 Januari 2026
amroehadiwijaya@gmail.com
---------------------
Catatan:
Sebagian materi tulisan ini tertuang pada novel OPERA VAN GONTOR (Gramedia 2010) yang insya Allah tidak lama lagi akan diangkat ke layar lebar.
Komentar
Posting Komentar