Opini Jum'at Pagi Amroeh Adiwijaya Respons berita media, Sofian Effendi menyampaikan pernyataan mengenai ijazah Jokowi kemudian mencabut dan meminta maaf. ------------- Dialog "imaginer" di internal keluarga Sofian Effendi (SE) mengenai sengkarut masalah ijazah Jokowi: SE: Saya 'eneg dengan hingar bingar polemik ijazah Jokowi yang sudah sekian tahun tidak selesai, dan saya dengar langkah pihak UGM pun melenceng jauh. Maka meski tidak muda lagi tapi saya masih terpanggil untuk menegakkan kebenaran terutama untuk UGM apalagi saya pernah menjadi rektor. ANAK: Sudahlah Pak, tidak usah ikut ngurusi kasus itu, biarkan oleh yang muda-muda, bapak istirahat saja supaya kesehatan fisik mental tidak terganggu. SE: Tidak bisa, darah bapak ini darah pejuang, harus berjuang sampai akhir hayat. CUCU: Kakek benar, saya support kek, dan saya koordinir agar kakek bicara ke publik, ya?. Maka SE pun muncul ke publik dan meledaklah pernyataannya yang "menyerang" Joko...
Opini Minggu Siang Amroeh Adiwijaya (merespons postingan Link 1 di bawah dari mas Timbul Basuki di satu WAG alumni UI). -------------------- "SADARLAH WAHAI PANJI GUMILANG" Link 1: https://lognews.co.id/component/content/article/9-artikel/5324-pendidikan-universal-yang-membumi-menenun-toleransi-dari-rumah-hingga-benua?Itemid=554 Link 2: https://amroehadiwijaya.blogspot.com/2025/06/117.html Link 3: https://amroehadiwijaya.blogspot.com/2025/06/116_11.html Setiap organisasi dan lembaga apa pun termasuk Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Zaitun, sah untuk memiliki moto dan jargon sebagai pedoman ke mana suatu lembaga akan mengarah dan menuju. Menurut kamus tata bahasa Indonesia, jargon dan moto (tidak motto) memiliki tujuan berbeda. Moto merupakan ungkapan yang mengandung makna mendalam dan mewakili nilai, tujuan, atau prinsip. Sedangkan jargon adalah kosakata khusus yang digunakan oleh kelompok atau profesi tertentu untuk merujuk pada hal-hal yang spesifik dalam kelompok ...
Komentar
Posting Komentar