"SELESAI DENGAN DIRI SENDIRI"
Keterangan Flyer:
Dibuat dan diposting hari Minggu, 3 Mei 2026, untuk memposting tulisan baru maupun lawas (reposting) pasca terbit E-BOOK BLOG Edisi IDUL FITRI 2025 (Edisi ini), dan Edisi 2026, serta tulisan pasca (dengan) flyer "DAILY MAIL" warna kuning
Keterangan foto:
Amroeh, Kreasi AI oleh ilustrator penerbit buku untuk Kata pengantar Amroeh pada buku karya Togap Marpaung, alumni F.MIPA UI, mantan Pejabat Fungsional-Inspektur keselamatan radiasi nuklir di
Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Republik Indonesia.
____________
"DIA TELAH SELESAI
DENGAN DIRI SENDIRI" (*)
Oleh: Amroeh Adiwijaya
Judul di atas merupakan pernyataan bahwa seseorang telah memiliki batas cukup bagi kebutuhan pribadinya sehingga mampu berhati mulia, arif bijaksana dan selalu berbagi penuh perhatian, cinta atas karunia kehidupan yang diterima, dan memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi sekitar.
Dia merasa telah selesai dengan dirinya sendiri, individu yang telah mencapai kematangan emosional dan spiritual, ditandai penerimaan diri secara penuh, berdamai dengan masa lalu, serta tidak haus validasi eksternal
Hidup tenang, fokus pada pertumbuhan diri, bertanggung jawab atas kebahagiaan sendiri, dan mampu mengelola ego serta emosi dengan bijak.
Dapat dimaknai lebih real, permasalahan dirinya telah tuntas terkhusus pada kemampuan finansial, yang bermakna tidak butuh tambahan uang lagi, (dan dikembangkan) sehingga dia mampu berbuat optimal dalam berorganisasi bahkan memberikan sumbangan finansial untuk organisasi.
"Kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaan dirinya".
Ideal sekaligus Amboy ...
Mungkinkah semua itu? Yang sedikit kritis menyatakan, "tidak mungkin" karena selama hidup manusia, hawa-nafsu (terkhusus yang buruk) akan tetap berada dalam jiwa, dan selama itu pula suatu saat bisa muncul--menguasai diri dan dapat melakukan apa yang disebut dengan mengejar kepentingan duniawi: Harta, Wanita (bagi wanita: Laki-laki) dan tahta.
Argumen lain pun muncul: Dia pasti bukan pebisnis ulung apalagi konglomerat karena memegang prinsip untuk terus maju, pantang berhenti makin kaya adalah "kitab suci".
Dapat diilanjut, judul di atas sering dijadikan jargon kampanye agar seseorang didukung untuk menjadi pimpinan suatu organisasi--apapun, yang bermakna, dia adalah empunya modal, tajir melintir.
Lalu apakah sebuah organisasi bagus jika dipegang oleh pemodal? Dan sebaliknya jika oleh seseorang yang tidak punya modal (uang) alias bokek?
Jawabannya sederhana, tidak selalu hitam-putih, karena sah bagi aktivis organisasi apapun-manapun termasuk keagamaan, yang berkecukupan maupun pas-pasan, berketurunan darah biru-merah-hijau maupun abu-abu, dari desa maupun kota, dan berbahagia maupun kurang, untuk berlomba meraih karier, jabatan-kekuasaan, popularitas dan uang, asalkan proporsional, tahu diri, tidak minder (juga tidak ndablek), serta mengikuti aturan organisasi dan norma segala hukum.
Maka aktivis organisasi apapun yang berpenampilan cekak dan kismin tidak perlu "jiper" atau ngeri-mengkeret sebelum berlaga bersaing dengan seseorang yang berjargon seperti judul di atas, namun harus tetap selalu mengendalikan hawa-nafsu alami manusia yang bersifat mudah lupa.
Dan sebagai patokan, semua orang--apalagi yang berkantong cekak adalah "belum selesai dengan dirinya sendiri" dalam banyak hal.
Yang utama adalah fokus pada visi besar, mengesampingkan rasa yang ada pada diri sendiri seperti malas, takut, dan sebagainya, dan yang utama tidak bertujuan untuk korupsi/KKN, dan itulah sejatinya yang "selesai dengan diri sendiri".
Berdamailah dengan diri sendiri, dapat menerima dengan ikhlas semua kehidupan masa lalu terutama kegagalan, bentuk fisik hingga luka psychologis dan sebagainya sehingga mampu membantu mengajak sesama untuk tebang bersama menuju nirwana.
Gresik, Jum'at
27 Oktober 2023
amroehadiwijaya@gmail.com
_________________
(*)
Termuat pada poin C.10
E-book Blog Amroeh Adiwijaya
Edisi IDUL FITRI 2025, Poin C.10
https://amroehadiwijaya.blogspot.com/2025/03/ebook-blog-amroeh-adiwijaya.html
Komentar
Posting Komentar