CAK KAJI MUSLIH AHYAT
CERPEN EDISI KHUSUS
(Ketiga)
Menjelang Halal Bihalal (HBH) IKKAD (saudara IKB.KALTUM) Ke 19 Di Pondok Pesantren ATTANWIR, Talun Bojonegoro, 6 April 2025 mendatang, mengulang HBH di tempat yang sama (ke 10 tahun 1997).
-----------------
"CAK KAJI MUSLIH AHYAT
KINI DAN KOLO SEMONO"
Oleh: Amroeh Adiwijaya
Nonton sepintas iklan TV obat sakit kepala: kepaksa nyebut merk, cap "Panadol" (Foto di atas), menurut saya wajah sang bintang iklan TV mirip dengan masa muda cak Kaji Muslih Ahyat. Ganteng!
Yang bilang nggak mirip blass, monggo saja, Gpp, wkwkwk...
Dan mumpung ada mood nutul HP, saya terinspirasi dan tergerak untuk memunculkan tulisan ini.
Lalu, apakah materi tulisan ini nanti masuk pada buku saya berikut? Bisa jadi dan why not? Karena di dalamnya ada unsur "motivasi kehidupan". Serius!
Saya nyebut sebelum nama beliau dengan "Kaji" karena sesuai tradisi/kearifan lokal, istilah Arab yang di-Dukun-kan untuk Haji/Hajjah. Maka yang pinter boso Arab nggak usah protes, hihihi...
PETINGGI
Beliau adalah petinggi/Kepala desa-Kades yang terpilih beberapa kali (sampai sekarang) di desa Dukunananyar, Dukun Gresik, desa asal saya.
Catatan: Petinggi yang telah purna bakti/pensiun/mantan biasa disebut "petinggi dongkol".
Lalu, kok bisa beliau terpilih beberapa kali? Selain betah, tentu karena dicintai warganya.
Sebagai contoh, demi untuk memudahkan urusan warga seringkali beliau membawa "stempel" desa di saku pakaiannya, ke mana-mana, dan kapan pun/di mana pun bersedia untuk menyetempel+membubuhkan tandatangan di atas berkas yang dimintakan warga, (tentu) berkas yang sudah baik dan benar sesuai aturan yang berlaku. Dan itu tanpa embel-embel biaya apapun.
Dan ini yang beda dengan Pilkades dan Pil-pil yang lain di mana sewaktu mencalonkan diri, beliau tidak mengeluarkan biaya gede, malah disumbang warga secara sukarela.
Saya pun masih terbayang tahun '80-an, awal beliau maju sebagai calon petinggi/Kades. Suatu sore-sehari sebelum coblosan, ibu saya Hj Mafazah-almarhumah berpamitan kepada bapak saya H Rifai Malik-almarhum untuk menyempatkan TILIK CATING-calon petinggi (bukan tilik Ayu Tingting atau tilik bayi), dalam rangka untuk memberi support dan doa keberhasilan, ke rumah beliau yang berdampingan dengan pondok pesantren IHYAUL ULUM Dukun Gresik.
HBH
Dedikasi beliau untuk IKKAD, luar biasa hebat, dan patut kita jadikan teladan.
Dulu, setiap acara Halal Bihalal (HBH) IKKAD di luar Dukun di mana saya sempat diberi amanah menjadi ketua Panpel HBH 3 kali berturut-turut (dan HBH sebelumnya), beliau yang humoris itu selalu terpanggil membantu mengkoordinir warga IKKAD asal Dukun dan sekitarnya untuk berangkat bersama-sama ke tujuan, dengan berupaya mendapatkan Bus dan dana Bus.
Yang mencengangkan sekaligus lucu ketika HBH IKKAD ke 11 tahun 2009 di GOR Petrokimia Gresik.
Rombongan yang beliau pimpin di mana terdapat sesepuh itu, beberapa ratus meter sebelum GOR, sempat-sempatnya beliau mengganti mobil yang dikendarai dengan menyewa dokar menuju GOR, yang tentu bikin yang menyaksikan tertawa ngakak....
Beliau aktif hadir di Dukun dan lain-lain pada rapat-rapat IKKAD dan Panpel HBH, juga hadir ketika Raker PP IKKAD di Ponpes Talun Bojonegoro, 2 Maret 2024 yang lalu meski secara fisik nampak "sayah".
MBAH YAT
Mengingat beliau, tak ketinggalan saya pun mengenangkan almarhum sang ayah, yang warga Dukun-biasa menyebut dengan Mbah Ahyat (Mbah Yat), sosok yang tawadhuk dan rajin beribadah.
Sense of humornya pun mirip dengan, tepatnya menurun kepada sang putra.
Suatu saat, Mbah Yat pernah bercerita kepada saya dan anak muda lain sebaya, yang kami kagum dan menilai betapa ulet, gigih sekaligus cerdik dan santainya beliau dalam berbisnis.
Alkisah, di desa Parengan dan Pangkatrejo, kecamatan Semlaran(?) Lamongan, dan sekitarnya, beliau menjual barang dagangan hand made-hasil produk beliau berupa "lampu Ting" yang masa itu uplik-nya ber-energi minyak tanah.
Di sana, beliau menerapkan tips semacam "observasi" mendalam 'ala masa kini, "survey secara real count, bukan quick count".
Dengan telaten, door to door-dari toko ke toko, asisten pertama beliau kemudian disusul asisten kedua menanyakan, "apa tersedia/menjual lampu Ting?!".
Setelah semua toko tuntas didatangi yang ternyata tidak menjual, maka beliau sendiri yang turun tangan untuk menawarkan.
Hasilnya pun luar biasa. Pemilik toko-toko itu kulakan memborong hingga dagangan beliau terjual habis, yang pastinya mereka berharap Ting kulakannya laris terjual karena sebelumnya ada beberapa orang yang mencari.
Hebat, dan kalimat "kolo semono" pun berakhir, titik.
ðŸ¤
Salam terus sehat dan semangat untuk cak Kaji Muslih, dan Allahummaghfirlahu kagem Mbah Yad.
Gresik, Sabtu 4 Januari 2024
Komentar
Posting Komentar