THE DEVIL IS IN THE DETAILS
THE DEVIL IS IN THE DETAILS
(ANDA DOKTER?. DAN UANG?) *
Oleh: Amroeh Adiwijaya
Khusus sub judul (dalam kurung) dengan pertanyaan di atas sekedar biar menarik, nyantolin sedikit dengan terbongkarnya kasus dokter palsu di beberapa daerah beberapa waktu yang lalu, bukan mengenai pasien yang kebetulan sembuh ketika berobat kepadanya, melainkan sekalian sebagai peneguh perlunya bagi siapa pun untuk bertanya jeli dan detail sebelum melangkah, tidak hanya ketika mencari bantuan tapi juga ketika mau memberi bantuan kepada siapa pun yang minta bantuan.
Yang pernah dengar istilah "The devil is in the details" ungkapan dalam bahasa Inggris yang artinya "iblis ada dalam detailnya" adalah menggambarkan bahwa detail yang terlihat kecil dan sederhana bisa sangat berpengaruh terhadap hal yang lebih besar.
Ungkapan yang menunjukkan bahwa sesuatu mungkin tampak sederhana, tetapi sebenarnya detail itu rumit dan cenderung menimbulkan masalah.
Dan seperti biasa tulisan saya selalu dengan contoh, pengalaman pribadi, maka berikut dua "True story" mengenai pentingnya menelusuri dan bertanya detail seperti penerapan istilah Inggris di atas sebelum memberi bantuan, sekaligus menandakan bahwa memberi bantuan pun tidak mudah, selalu ada resiko.
(1)
Ini kejadian 5 tahun yang lalu.
Sebenarnya dengan teman satu ini saya ogah membantu karena, seperti biasa, sebelum dia meminta bantuan saya, dia pasti sudah menghubungi sana-sini.
Kali ini dia berfeeling tepat,
meminta bantuan pada orang yang tepat untuk diminta tolong.
Ini mengenai anaknya. Saya pernah ngobrol dengan sang ayah (teman saya itu) bahwa saat mahasiswi, sang anak kuliah di fakultas kedokteran di salah satu PTN tenama di Jawa Tengah dan sempat saya katakan, "anakmu hebat Bro, kasih tips dong agar anak-anakku bisa seperti dia", yang dijawab dengan antusias, "sering berdoa dan shalat tahajud untuk anakmu".
Dia minta bantuan agar anaknya cewek yang "dokter" itu bisa diterima kerja sebagai dosen di satu PTS di Jawa Timur, dan dengan satu pertanyaan saya, "untuk anakmu yang sudah lulus dari fakultas kedokteran itu?" saya nyatakan bersedia membantu, karena kebetulan saya mengenal baik dengan seorang kawan (inisial: ARS) Wakil Rektor bidang akademis PTS yang dia maksud.
Proses pun berjalan pintas cepat dan lancar jaya. Tiga hari kemudian sang anak diwawancara langsung oleh Rektor.
Sore, setelah diwawancara, ARS menelpon saya, "karena dia bukan seorang dokter yang kami butuhkan, maka sorry Mas dia tidak kami terima". Saya pun mumet ambyar.
Ternyata sang anak betul lulusan Fakultas Kedokteran, tapi dari prodi Kesehatan Masyarakat, bukan prodi Kedokteran umum.
Waktu mau membantu itu saya hanya berpikiran simple, sebagaimana di UI dan UNAIR Surabaya, Fakultas Kedokteran Ya Kedokteran umum, tidak seperti PTN sang anak yang ternyata terdiri dari dua prodi (prodi Kedokteran umum dan prodi Kesehatan Masyarakat).
Setelah kejadian itu saya komunikasikan santai dengan teman-teman satu WAG sealmamater, dan yang lucu semua menyalahkan saya, "anda ceroboh, tidak menerapkan makna ungkapan lama Inggris, The devil is in the details", dilanjut, "Anda tidak bertanya detail lebih dulu mengenai latar belakang si-anak". Untungnya di antara mereka tidak ada yang bilang, "rasain elo Bro". Ampun, kwkwkkwk....
(2)
Masih mengenai cewek tapi rada beda.
empat tahun silam, saudara dekat istri saya yang mantan Pramugari Haji (inisial: SS) maskapai Saudia Airlines, minta bantuan saya untuk mendapatkan kerja sebagai Pramugari reguler di maskapai mana saja, karena dia tahu saya banyak kawan Pramugari, tentu yang cantik-cantik, hehe....
Kebetulan saya mengenal seorang Pramugari yang juga menjabat sebagai "Crew Leader/pimpinan pramugari maskapai Garuda Indonesia. Saya pun antar ke rumahnya, Malang, yang kebetulan dia off kerja. Tentu kami pergi bertiga; saya, istri dan dia.
Beberapa hari setiba di Gresik, istri saya mendapat cerita dari SS bahwa ibunda SS bilang ke SS, "jangan ngasih kalau Amroeh atau istrinya minta uang Ya!", yang tentu bikin istri meradang, "Lho kapan kita minta uang, Ya, kan, Pa? Emangnya kita membantu demi untuk mendapatkan fee/uang? Lha wong bayar bensin, tol dan makan bakwan President di Malang aja kita yang bayar, jeeeee".
Saya pun berujar sebijak mungkin, "wis, gapopo Ma, ikhlasin aja orang mau bilang apa tentang kita, Allah mboten sare kok", dan saya lanjutkan, "di sini membuktikan lagi bahwa, terutama saya, tidak memperhatikan petuah lama Inggris yang pernah saya katakan, The Devil is in the Details" (di atas).
Sebelumnya saya tidak mempelajari watak ibunda SS, paling tidak menjelaskan kepada ibunda SS bahwa tujuan kami hanya untuk membantu, bukan misal sebagai "perekrut/pengerah tenaga kerja" dengan bayaran tertentu, mahal pula.
Dan yang saya syukuri, saya dan istri tidak mutung atau ngambek tapi berkata, "insya Allah, berkat bantuan dan keikhlasan kita di atas, SS yang cantik dan (bukan tapi, loh) sudah punya dua anak itu diterima kerja di satu maskapai penerbangan yang dituju.
Dan Alhamdulillah saya dan istri tidak bersedia menerima amplop maupun transferan bank dari SS, yang insya Allah berberkah karena Alhamdulillah (lagi), dua anak perempuan kami berhasil mendapatkan beasiswa sekaligus ikatan dinas dengan mudah, yang tak lain berkat 'aunillah, karunia Allah.
Akhirul kalam.
Dengan opini ini, semoga kita mengetahui, memahami dan memaklumi (lumrah) sekaligus tidak kaget kalau seseorang bertanya rada njelimet sebelum memberi bantuan kepada kita, mengenai apapun termasuk pertanyaan siapa kita, dan untuk apa? Karena mereka sudah pada pinter dengan menerapkan prinsip "The devil is in the details" di atas.
Bahkan dalam hal kecil misal ketika kita minta nomor telepon seseorang dengan ditanya, "untuk apa?", tidak perlu mbrengkel marah kalau dia tidak ngasih. Terima saja dengan legowo dan ikhlas.
Ingat, masing-masing orang punya privacy untuk memberi maupun menolak bahkan nyinyir-mencemooh atau bertanya kurang genuine-cerdas--kurang bermutu yang bikin kita jengkel dan membuat kita tersungging karena dinilai rendah oleh orang lain.
Ya, ikhlas menerima apa saja yang bikin kita jengkel karena sesuatu yang tidak mungkin bagi siapa pun untuk mencegah atau menyetop omongan orang. Mumet pun tidak perlu. Sekali lagi bersikap ikhlas-lah.
Salam sehat untuk kita semua, selamat menyongsong waktu salat Subuh.
Gresik, 31 Oktober 2024
* NOTE:
Artikel di atas tertuang pada E-BOOK BLOG Amroeh Adiwijaya, Edisi IDUL FITRI 2025, poin C.5.
🩸
https://amroehadiwijaya.blogspot.com/2025/03/ebook-blog-amroeh-adiwijaya.html
Komentar
Posting Komentar